E-PAPER
ARSIP
pariwisata
Sabtu, 16 februari 2013 01:01 WIB

Kampung Baduy

Alami nan Sejuk

KABUPATEN Lebak menyimpan beragam objek wisata. Wisata pantai tersebar di Lebak Selatan adalah Pantai Sawarna, Bagedur, Binuangen, dan Taraje. Sementara wisata pemandian air panas dan Arung Jeram Ciberang terletak di Kecamatan Cipanas dan Lebak Gedong.

Untuk wisata ziarah bisa datang di pemakaman Wong Sagati di Kecamatan Sajira. Sedangkan wisata sejarah seperti rumah tua Multatuli di Kota Rangkasbitung, meski saat ini kondisinya tidak terawat. Situs Cibedug dan Kosala bisa dijempuai di Kecamatan Citeroek dan Lebak Gedong. Begitu juga wisata Curug atau air terjun, salah satunya Curug Cimayang yang terletak di Kecamatan Bojongmanik. Namun di antara objek wisata tersebut ada yang tak kalah menarik, yaitu wisata Budaya Baduy. Wisata Budaya Baduy terletak di pedalaman Lebak, persisnya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar.

Wisata Baduy sangat potensial, sehingga tidak mengherankan jika objek wisata ini kerap dikunjungi para turis, baik lokal maupun mancanegara. Setiap tahun terus menunjukkan angka penambahan pengunjung.

Daya tarik wisata adat di Kampung Baduy adalah kehidupan alami dengan pemandangan alam yang indah, keindahan tenun khas suku Baduy, dan memperkenalkan keragaman budaya Indonesia pada anak-anak. Berkat sisi misterius suku Baduy, tempat wisata di Banten ini sering dijadikan rujukan sebagai tempat wisata pendidikan di Indonesia. Banyak akademisi yang melakukan penelitian disana untuk mengetahui cara bertahan hidup dengan mengabaikan perkembangan budaya modern.

Suku Baduy terbagi menjadi dua kelompok. Suku Baduy Luar saat ini telah berkembang menjadi puluhan perkampungan dengan sedikit sekali sentuhan dunia luar. Sementara, Suku Baduy Dalam terbilang sangat ketat dalam membatasi diri untuk berhubungan dengan masyarakat luar. Mereka tinggal di wilayah pegunungan Desa Cibeo, dekat Gunung Kendeng.

Baik masyarakat Baduy Luar maupun Baduy Dalam sama-sama membatasi diri untuk bercakap-cakap dengan orang luar, misalnya wisatawan dan pemandu wisata. Mereka hanya akan bicara kalau terpaksa, dan itu dilakukan seperlunya saja. Kesan tertutup dan primitif memang terasa sekali di Desa Cibeo.

Masyarakat suku Baduy tidak menggunakan alat transportasi modern, misalnya sepeda kayuh, sepeda motor, apalagi mobil. Mereka juga tidak memakai alat-alat elektronik, tidak menggunakan energi listrik, mandi di sungai, dan hanya memakai pakaian hasil tenunan warga Baduy sendiri.

Bila Anda berniat menghabiskan waktu liburan di Kampung Adat Baduy di Desa Cibeo, siapkan diri untuk menjalani kehidupan secara alami tanpa bantuan alat komunikasi dan segala kemudahan lainnya. Siapkan pula jaket tebal, sleeping bag, sepatu mendaki, senter, dan isi penuh baterai handphone sebelum berangkat ke Desa Cibeo.
(net)**