E-PAPER
ARSIP
kabar utama
Jumat, 08 februari 2013 01:19 WIB

PLN Matikan Listrik di Lokasi Banjir

Baleendah Gelap Gulita

BALEENDAH (GM) - Lokasi banjir di Kelurahan Andir dan Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung menjadi gelap gulita, setelah PT PLN (Persero) APJ Majalaya memutuskan aliran listrik sejak Kamis (7/2) sekitar pukul 01.00 WIB. PLN baru akan mengalirkan listrik bila banjir sudah mulai surut.

Berdasarkan keterangan dari seorang petugas PT PLN (Persero) APJ Majalaya, Ika, pemadaman listrik dilakukan untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan, seperti sengatan listrik. Untuk memadamkan listrik di daerah banjir di Kelurahan Andir dan Kelurahan Baleendah, PLN mematikan tiga gardu.

Gardu pertama mengaliri listrik 182 rumah, gardu dua 617 rumah, dan gardu tiga untuk 628 rumah. Hingga Kamis sore, PLN masih mematikan aliran listrik ke lokasi-lokasi banjir tersebut.

"PLN baru akan mengalirkan listrik kembali apabila ada surat persetujuan dari RT dan RW setempat. Surat yang ditandatangani ketua RT dan RW yang menjadi dasar bagi PLN untuk mengalirkan listrik," kata Ika saat dihubungi lewat telepon.

Ditemui secara terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Marlan menjelaskan, pemutusan aliran listrik ke sejumlah lokasi banjir merupakan permintaan dari BPBD. Pada saat petugas dari BPBD melakukan evakuasi terhadap sejumlah warga yang tinggal di lokasi banjir, Kamis dini hari terlihat lampu rumah masih tetap menyala.

"Padahal ketinggian air di Kampung Uak, Kelurahan Andir sudah setinggi lebih dari satu meter. Berdasarkan protap BPBD, apabila ketinggian air sudah berada di atas satu meter, berarti listrik harus sudah dipadamkan. Masalahnya colokan atau steker listrik yang ada di rumah penduduk rata-rata dipasangnya kurang dari satu meter di atas lantai," kata Marlan.

Apabila steker sampai terendam air bisa membahayakan penghuni rumah. Banyak contoh kasus korban banjir yang tewas tersengat aliran listrik, gara-gara aliran listrik tidak dipadamkan.

"Sebelum jatuh korban jiwa, lebih baik dicegah sejak dini. Lebih baik permukiman penduduk yang terendam banjir gelap gulita daripada menyala namun mengancam keselamatan jiwa penghuninya," ujarnya.

Ketinggian air akibat meluapnya Sungai Citarum yang melanda Kecamatan Baleendah dan Dayeuhkolot, berkisar antara 0,5 sampai 1,8 meter. Tertinggi di Kampung Leuwi Bandung, dan Cieunteung.

Sebagian warga yang rumahnya terendam banjir memilih mengungsi ke rumah susun sewa (rusunawa) Baleendah. Berdasarkan data resmi yang dikeluarkan BPBD Kabupaten Bandung, warga yang mengungsi di rusunawa sebanyak 167 kepala keluarga (KK) atau 674 jiwa.

"Di lokasi pengungsian rusunawa terdapat 44 orang balita, 30 orang lansia, dan 4 orang wanita hamil," katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan logistik pengungsi, Kamis pagi sudah mulai didistribusikan beras, mi instan, keperluan bayi, makanan siap saji, terpal, sampai alas tidur. Diperkirakan logistik yang sudah didistribusikan ke kantor Kecamatan Baleendah tersebut cukup untuk dua hari ke depan.
(B.104)**