E-PAPER
ARSIP
sketsa
Jumat, 18 januari 2013 01:01 WIB

Bandung-Lembang

Oleh : Nana Sukmana
Bangdung Lembang puseur kaendahan
Diriung ku gunung-gunung
Gunung sasakala Sunda
Sunda jaya nu baheula

Pangjugjugan, paniisan
Pangbeberah nu keur susah
Panyalinglar sungkawa manah

SYAIR lagu tersebut menggambarkan betapa indahnya Kota Bandung. Dikelilingi gunung-gunung yang menawarkan kesejukan alami. Bandung menjadi jugjugan (tujuan) orang-orang untuk refreshing, pelipur hati yang lara. Lagu itu saya dengar sejak masih kanak-kanak.

Saya hafal lagu tersebut dari Pak Eyo Kusmayadi --guru SD saya-- ketika saya baru menginjak bangku kelas satu SDN Sudimara, Desa Panawangan, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis. Hingga kini masih melekat dalam benak.

Saat itu, saya membayangkan Kota Bandung sebagai kota yang benar-benar indah, ramah, rejuk, hijau, dan penuh dengan bunga. Taman-taman berhiaskan bunga dan pepohonan yang merona, sebagaimana yang digambarkan dalam lagu tersebut. Namun, ketika saya menginjakkan kaki di Kota Bandung tahun 1984, alis saya agak berkerut. Mengapa gambaran lagu itu tidak benar-benar nyata?

Saya hanya menemukan kepulan cerobong asap pabrik, gedung-gedung yang berdiri angkuh, teriakan-teriakan kendaraan yang membuat telinga pekak, serta wajah-wajah yang tidak bersahabat.

Dua puluh sembilan tahun sudah saya berada di kota ini. Selama itu pula saya merasakan berbagai perubahan yang menimbulkan berbagai malah. Udara kota Bandung sangat ekstrem, jika musim hujan terasa sangat dingin, lalu datang banjir. Di saat kemarau terasa sangat panas, lalu terjadi kebakaran. Udara siang hari seakan menusuk ke ubun-ubun tanpa ampun. Lebih parah lagi ketika ratusan ribu kendaraan meraung-raung dan saling berebut jalan sehingga menimbulkan kemacetan.

Bangunan-bangunan pencakar langit setiap hari terus didirikan, bahkan di lahan konservasi yang tabu untuk ditumbuhi bangunan. Lihat daerah Dago dan Lembang! Dulu rimbun dengan pepohonan, sekarang sudah mulai disesaki bangunan-bangunan tinggi yang angkuh. Jadi tidaklah heran ketika musim kemarau udara sangat menyengat karena karbondioksida dari emisi kendaraan tak mampu diubah oleh rimbun dedaunan menjadi oksigen. Awan susah diurai menjadi embun, karena atmosfer sudah pekat dengan gas.

Jadi, benarkah Bandung masih bisa dijadikan pangreureuhan? Hati saya tergelitik oleh pemandangan ironis. Lihat nasib taman-taman yang ada di Kota Bandung, taman yang dibangun dengan uang milayaran rupiah, hanya bertahan beberapa bulan saja. Dia hancur oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.

Semakin gerah. Di tengah kota, taman-taman dirusak oleh tangan-tangan jahil yang gatal melihat keindahan dan kesejukan. Sementara di pinggiran kota, lahan-lahan konservasi, gunung-gunung mulai diusili pula oleh tangan-tangan gatal yang didorong oleh sifat hedonis sekelompok borjuis --yang boleh jadi senang bermain mata dengan oknum birokrat.

Bandung-Lembang, entah apa yang akan terjadi sekian puluh tahun ke depan. Masihkah anak-cucuku melihat rindangnya pepohonan dan hijaunya pegunungan? Saya khawatir mereka hanya akan mengenalnya lewat syair lagu atau dongeng sebelum tidur.
(Wartawan Galamedia)**