E-PAPER
ARSIP
kabar bandung
Sabtu, 20 juli 2013 01:47 WIB

Pemprov Gandeng Investor Cina

Bangun Monorel di Bandung Raya

DIPONEGORO (GM) - Pemprov Jabar berencana melakukan memorandum of understanding (MoU) dengan investor Cina, yakni China National Machinery Import and Eksport Corporation (CMC) untuk membangun monorel di kawasan Bandung Raya hari ini (Sabtu, 20/7) di Gedung Pakuan, Jln. Oto Iskandar Di Nata (Otista), Bandung.

Terkait rencana pembangunan monorel, menurut Pakar transportasi dari ITB, Ovyar Z. Tamin, pemerintah serius dalam pembangunan moda trasportasi massal di kawasan Bandung Raya. Sebab sudah ada beberapa investor yang melakukan MoU untuk membangun monorel di Kota Bandung.

"Selama ini sudah ada investor yang akan membangun monorel dari Cina dan Prancis. Namun, selama ini rencana pembangunan moda transportasi massal ini tidak jarang yang hanya sampai di penandatanganan nota kesepahaman (MoU) saja. Hal itu sering terjadi karena masalah pendanaan," ungkap Ovyar saat dihubungi wartawan, Jumat (19/7).

Dikatakan, masterplan perbaikan angkutan umum di Bandung sudah ada sejak 2009. Namun, dari dulu hingga kini rencana tersebut belum terwujud.

Jadi permasalahan transportasi di Bandung ini sudah diketahui, tinggal pelaksanaan, pendanaan, dan keseriusan dari pemangku jabatan.

Perlu keseriusan

Menurutnya, pembangunan monorel memerlukan keseriusan dan perencanaan yang matang. Sebab pembangunan monorel bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Terlebih monorel ini tidak akan memecahkan masalah jika berdiri sendiri. Jadi harus terbangun dengan baik dan bersinergi jika ingin menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan transportasi.

Ia mengingatkan, pembangunan monorel harus terintegerasi dengan moda angkutan umum lainnya, seperti angkutan kota (angkot), bus Trans Metro Bandung (TMB), maupun kereta api. Juga lintasannya harus di rute gemuk (ramai dikunjungi). Sebab dengan kapasitas yang banyak, kehadiran monorel akan lebih terasa dan efisien.

"Selain itu, keberadaan monorel pun perlu ditunjang oleh luasnya lahan yang tersedia. Monorel ini harus beroperasi di koridor yang besar, seperti di daerah Dago, Soekarno-Hatta, atau Sudirman. Jadi di koridor kecil yang tidak bisa dilintasi monorel dapat diisi oleh angkot atau TMB. Dengan begitu, wilayah Bandung Raya yang tersentuh angkutan umum akan lebih luas dan merata," tegasnya.
(B.96)**