E-PAPER
ARSIP
sketsa
Kamis, 03 oktober 2013 00:13 WIB

Bau Batu Bara

Oleh : ENGKOS KOSASIH
SEJUMLAH warga yang tinggal di kawasan industri tekstil Majalaya, Kab. Bandung, sudah merasa tidak nyaman akibat adanya polusi udara yang berasal dari pembakaran bahan bakar batu bara. Bau menyengat sangat dirasakan warga, saat angin bertiup tenang atau sepoi-sepoi. Berdeda disaat embusan angin sedang kencang, bau polusi udara dari pembakaran batu bara tidak begitu tercium karena terbawa angin.

Bau menyengat itu menyeruak dari kawasan industri tekstil Majalaya di saat para pengusaha mengalihkan penggunaan bahan bakar minyak tanah ke batu bara. Untuk itu, penyebaran polusi udara dari pembakaran batu bara sudah berlangsung sangat lama dan bertahun-tahun.

Dipastikan penyebaran polusi asap batu bara itu mengancam terhadap kesehatan masyarakat yang ada di kawasan industri tekstil tersebut. Menurut kete­rangan sejumlah warga, polusi yang berasal dari asap pembakaran batu bara itu da­pat menimbulkan penyakit inspeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Sejumlah warga berharap kepada para pengusaha dalam mengelola perusaha­annya ramah lingkungan. Apalagi disaat memanfaatkan bahan bakar batu bara. Jangan sampai akibat pembakaran batu bara itu, merugikan masyarakat luas yang ada di sekitar perusahaan. Sementara yang diuntungkan adalah para ­pengusaha itu sendiri.

Keberadaan perusahaan di kawasan tersebut sebetulnya sangat menguntungkan masyarakat karena para pekerja di perusahaan tersebut didominasi warga setempat. Sehingga masyarakat perlu bersyukur dengan adanya perusahaan industri tekstil yang tersebar di kawasan Majalaya tersebut. Disamping itu, de­ngan adanya lapangan pekerja tersebut dapat menyerap tenaga kerja untuk menghindari terjadinya angka pengangguran yang berdampak pada aksi kriminalitas.

Meski demikian, para pengusaha tetap harus memperhatikan kesehatan ling­kungan dalam pengelolaan perusahaannya. Karena ada kalanya dalam pengelolaan perusahaan itu, ada di antara warga yang terus-menerus merasa dirugikan akibat adanya pembakaran batu bara itu. Dari cerobong asap batu bara itu menge­luarkan debu yang terbawa angin dan menempel di rumah-rumah warga. Bahkan, debu hitam yang berasal dari pembakaran batubara menempel pada jemuran warga.

Menyikapi persoalan lingkungan seperti itu harus menjadi perhatian semua pihak. Pemerintah juga harus melakukan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan yang menggunakan bahan bakar batu bara supaya menerapkan polar amah lingkungan. Jangan sampai dari pembakaran batubara menimbulkan pencemaran udara. Jika polusi udara itu dibiarkan terus, akibatnya lingkungan menjadi kotor dan masyarakat pun akan terancam kesehatan tubuhnya.
(wartawan hu. Galamedia)**