E-PAPER
ARSIP
kabar utama
Minggu, 03 juni 2012 00:05 WIB

Mamah Bungsu Bandung

Bisnis Kuliner

BUAT orang Sunda, nama Mamah Bungsu Bandung bukan sosok baru di jagat musik pop Sunda. Puluhan album telah dilempar dan menuai respons yang luar biasa dari para penikmat musik, terutama mereka yang suka genre pop Sunda. Lihat saja "Talak Tilu" dan "Mobil Butut", mendapat ruang tersendiri dengan suksesnya di pasaran. Bahkan tidak sedikit pendatang anyar musik pop Sunda dan dangdut menyanyikan lagu tersebut.

Tapi, sekarang ini sosok Mamah Bungsu Bandung seolah "tergerus" oleh musik modern yang banyak didengungkan ketimbang musik pop Sunda. Bahkan wajahnya juga sudah jarang tampil di layar kaca. Padahal, saat lagu "Talak Tilu" booming, nyaris setiap waktu lagu dan wajahnya menghiasi layar kaca. Apakah Mamah Bungsu pamornya betul-betul hilang?

Kepada "GM", Mamah Bungsu Bandung yang memiliki nama lengkap Hj. Mimi Setiawati ini mengaku masih aktif bernyanyi dan melantunkan karya-karyanya dipanggung hiburan. Bahkan belum lama ini, penyanyi asal Desa Mekarmulya Situraja, Sumedang ini sempat manggung di Bandung, dan jadwal-jadwalnya untuk bulan ini dibilang cukup padat. "Masih nyanyi atuh Neng, Mamah mah, cuma ya sekarang mah job off air yang diambil. Kalau layar kaca sudah jarang," ungkapnya saat dihubungi, Sabtu (2/6).

Lebih dalam ia pun menceritakan kenapa dirinya lebih memilih orderan off air ketimbang layar kaca atau melempar album teranyar. Selidik punya selidik, Mamah yang punya suara khas ngajelengeng nan indah ini, sedang sibuk merintis bisnis kuliner.

Meski wanita kelahiran 5 November 1962 dan anak bungsu dari lima bersaudara yang semuanya berprofesi sinden ini, belum bisa memberikan bocoran lebih jauh tentang bisnisnya itu, tapi ia mau membeberkan bahwa bisnis kuliner yang dilakoninya saat ini yaitu bisnis rumah makan Sunda. "Sekarang Mamah lagi fokus bikin rumah makan nasi Sunda gitu, tapi bocoran jauhnya nanti ya kalau sudah jadi," tambahnya.

Lestarikan budaya

Kendati sudah mulai melirik bisnis yang diyakininya akan memberikan keuntungan besar, namun ia menegaskan untuk dunia tarik suara tetap akan dijalani. Malahan, ia tetap akan menghiasi kancah lagu pop Sunda dengan target untuk melestarikan kembali budaya Sunda di tengah masyarakat. "Nyanyi masih tetap, jangan sampailah berhenti. Karena bagaimanapun darah seni melekat di diri Mamah. Jadi tidak mungkin kalau gara-gara bisnis, nyanyi ditinggalkan," ungkapnya.

Setelah bisnis kulinernya mulai jalan, ia mengaku akan kembali membuat album baru setelah 15 album kemarin selesai digarap. "Album anyar pasti, sekarang itung-itung istirahat sebentar dan menjalankan bisnis. Tapi tidak lama, lagi pula siapa yang tidak mau bikin album. Tunggu saja karya terbaru saya dan mudah-mudahan bisa kembali diterima masyarakat luas," paparnya.

Sosok penyanyi yang satu ini memang luar biasa. Meski berada di jalur yang sedikit dilirik anak muda, tapi kemahirannya menyanyi betul-betul mencuri perhatian orang banyak. Kemampuannya tidak sebatas menyanyi dangdut. Wanita yang senang berkebaya anggun dan pandai menari jaipongan ini juga pandai melantunkan lagam degung, jaipong, ketuk tilu, kasidah, dll.

Album yang laris di pasaran "Talak Tilu" merupakan album ke-18 dari 25 album yang sudah dibuatnya, dan merupakan roda yang mampu menggeliatkan kembali para seniman muda untuk berkreasi. Karena setelah hadirnya lagu tersebut, banyak lagu Sunda baru dalam versi pop yang bermunculan yang dinyanyikan penyanyi baru. Diakuinya, kesenian Sunda seperti jaipongan dan wayang golek sudah hampir punah di tanah kelahirannya sendiri. Hal itu membuatnya miris.

"Gara-gara 'Talak Tilu', ya latar belakangnya, karena Mamah melihat banyaknya kawin cerai di kalangan artis," ungkap istri Ujang ini.

Album tersebut merupakan album pamungkas dari 15 album yang dikontrak dengan Panama Record. "Sistemnya dengan Panama Record sistem kontrak untuk 15 album. Mau terjual berapa ribu kopi, saya tidak tahu. Tapi yang pasti album 'Talak Tilu' dan 'Mobil Butut' menghasilkan miliaran. Dan ini album yang ke-15," tutur ibu dari Mira, Sinta, dan Egi ini.
(tri widiyantie/"GM")**