E-PAPER
ARSIP
kabar bandung
Kamis, 16 mei 2013 00:22 WIB

Tokoh Sunda Protes Restoran Baksil

Dada, "Siapa di Belakangnya?"

GEDEBAGE (GM) - Reaksi sejumlah tokoh Sunda yang memprotes rencana pembangunan restoran di Babakan Siliwangi (Baksil) oleh PT Esa Gemilang Indah (EGI), dipertanyakan Wali Kota Bandung, Dada Rosada. Dia menegaskan, pembangunan di Baksil dilakukan pada tapak lama dan tidak boleh mengganggu fungsi serta kondisi ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Ditemui usai pencanangan Pusat Perbelanjaan dan Pengembangan Sumber Ekonomi Rakyat (P3SER) di Pasar Induk Gedebage, Rabu (15/5), Dada justru mempertanyakan penolakan para tokoh Sunda tersebut. "Itu yang ada di belakangnya siapa?" katanya. Dada juga menegaskan, dirinya sudah berkomunikasi dengan Paguyuban Pasundan.

"Kalau dari saya, tetap pada posisi pembangunan berkelanjutan dengan ekonomi, sosial, dan lingkungan yang tidak terganggu. Ada beberapa bagian yang boleh (dibangun, red) dan ada yang enggak boleh," ujarnya.

Pembangunan yang dilakukan PT EGI, tegas Dada, hanya boleh dilakukan pada tapak yang lama. Terkait hutan kota, tetap harus ada sarana penunjang. "Hutan kota juga harus ada sarana penunjangnya seperti WC, juga untuk salat dan berteduh," paparnya.

Seperti diberitakan "GM", Rabu (14/5), sejumlah tokoh Sunda di antaranya Acil Bimbo, Tisna Sanjaya, Aat Suratin, dan Dadan Ramdan berkumpul di Paguyuban Pasundan, Jln. Sumatra. Mereka menolak rencana pembangunan restoran di kawasan Baksil.

Ketua Paguyuban Pasundan, Didi Turmudzi selaku fasilitator pertemuan mengatakan, semua tokoh Sunda yang terdiri atas akademisi, budayawan, seniman, dan komunitas lainnya, menolak rencana pembangunan restoran ini.

Menurutnya, rencana pembangunan tersebut telah mengusik dan menyakiti harkat, martabat, dan harga diri masyarakat, bukan hanya Kota Bandung tapi juga warga Jawa Barat.

"Harkat, martabat, dan harga diri kita terusik dan terganggu dengan rencana pembangunan restoran oleh PT EGI di Babakan Siliwangi. Kita sangat menolak," ujarnya.

Salah seorang seniman, Tisna Sanjaya mengatakan, pada tanggal 17 Mei mendatang, pihaknya akan melakukan aksi di Baksil dengan mencopot sepuluh seng lukisan yang mengelilinginya. Seng tersebut kemudian akan dipertontonkan di Balai Kota Bandung.

"Hal ini merupakan pesan yang menandakan kalau kita menolak keras pembangunan restoran di Babakan Siliwangi. Aksi ini akan melibatkan ratusan orang dari berbagai elemen masyarakat," tambahnya.

Siap dialog

Sementara itu, konsultan PT EGI, Dadan Hedaya mengatakan, concern pihaknya adalah melaksanakan surat perjanjian kerja sama yang telah ditandatangani bersama dengan pemkot. Demikian dikatakannya melalui siaran pers yang diterima "GM" kemarin malam.

Soal gugatan hukum, menurutnya hal itu hak setiap warga negara, termasuk para tokoh dan inohong Sunda. "Kami menghormati sikap yang mereka ambil, karena tujuan kita sama, yakni tetap menjadikan Baksil sebagai hutan kota yang perlu dijaga kelestarian lingkungannya. Problemnya adalah cara pandang yang berbeda. Mereka bisa melakukan class action atau apapun namanya. Tak ada hak kami untuk melarang itu," katanya.

Namun yang jelas, pihaknya siap membuka dialog dan menerima kritikan atau masukan, termasuk melakukan penandatanganan komitmen dengan aktivis lingkungan mana pun.

"Bahwa kita akan menjaga Baksil agar tetap lestari. Kami cuma berharap semua pihak tidak berprasangka buruk. Mari sama-sama jaga dan awasi penataan serta pembangunan kawasan ini. Toh di MoU ini, IMB, rambu-rambu yang mengawasi kami begitu tegas, rinci, dan jelas," tegasnya.
(B.95/B.111)**