E-PAPER
ARSIP
kabar utama
Kamis, 29 agustus 2013 00:55 WIB

Ketua Tim Forensik RSHS:

dr. Muin Tak Profesional

RSHS (GM) - Tim Forensik Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) memastikan, autopsi terhadap Branch Manager PT Verena Multi Finance, Franceisca Sisca Yofie (34) telah dilaksanakan sesuai prosedur. Sehingga hasilnya juga telah memenuhi standar.

"Autopsi dilakukan bersama dengan tim. Di sini (RSHS, red) ada empat dokter forensik dan mereka berkompeten. Saya ini bukan dokter umum. Dan saya melakukan pemeriksaan (terhadap Sisca, red)," ujar Ketua Tim Dokter Forensik RSHS, dr. Norman Heriyadi di kamar mayat RSHS, Rabu (28/8).

Pernyataan tersebut menanggapi komentar miring dari rekan sejawatnya, ahli forensik RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, dr. Muin Idris yang menyatakan, autopsi terhadap Sisca dilakukan secara amatir dan hanya dilakukan dokter umum. Pernyataan tersebut dilontarkan Muin dalam acara talkshow di salah satu stasiun televisi swasta nasional.

Norman mengatakan, Muin hanya mengomentari hal yang tidak diketahuinya. Muin tidak mengetahui tindakan yang dilakukan tim forensik RSHS secara utuh.

"Dia tidak tahu apa yang saya lakukan, lalu menilai apa yang saya lakukan. Dia tidak profesional. Artinya dia tidak menggunakan etika atau mungkin dia sudah lupa," tuturnya.

Norman menegaskan, proses autopsi dilakukan bersama tim. Karena dalam kedokteran, tidak ada kasus yang bisa ditangani oleh seorang dokter. Kasus kedokteran selalu melibatkan banyak dokter spesialis. Termasuk mengikutsertakan peserta didik (mahasiswa, red) sebagai proses penurunan ilmu. "Itu memang harus dilakukan. Anggota tim saya banyak," tegasnya.

Disinggung tentang peluang dilakukannya autopsi ulang, Norman mengatakan, hal itu mungkin saja dilakukan. Namun sebelum melakukannya harus ada indikator yang menuntut dilakukannya penggalian kuburan, dilanjutkan pada autopsi ulang. Dan menurutnya, tidak ada indikasi yang mewajibkan dilakukannya autopsi ulang.

"Indikasinya apa?" tegasnya.

Norman berharap Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) turun tangan atas komentar dr. Muin dalam mengomentari rekan sejawatnya yang dinilai tidak etis. Terlebih, Norman menganggap Muin telah melakukan hal serupa dalam beberapa kesempatan.

"Sepertinya dia sudah beberapa kali melakukan hal itu. Ini masalah etika. Majelis kehormatan harus menangani ini," harapnya.

Pada kesempatan tersebut, Norman kembali mengungkapkan adanya sejumlah luka pada tubuh Sisca. Luka terbuka di antaranya ditemukan di dahi kanan, belakang kepala kiri, dan dua di bekakang kepala. Luka-luka terbuka tersebut dipastikan akibat benturan benda tajam.

Sedangkan luka lecet ditemui di kepala, tubuh bagian depan, bokong, punggung, dan tungkai.

Belum sempurna

Di tempat terpisah, Polrestabes Bandung terus bekerja keras menyelesaikan berkas perkara kasus pencurian dengan kekerasan yang menewaskan Sisca. Meski sudah melakukan reka ulang sebagai syarat kelengkapan, namun sejauh ini berkas perkara masih dinilai belum sempurna.

Hal itu disampaikan Kasat Reskrim Polrestabes Bandung, AKBP Trunoyudo Wisnu Andiko, saat ditanya wartawan perihal perkembangan penyidikan kasus Sisca.

"Masih proses melengkapi berkas. Berkas perkara belum dilimpahkan," kata Trunoyudo di Mapolrestabes Bandung, Jln. Jawa, Rabu (28/8).

Ditambahkan Trunoyudo, penyidikan masih terus dilakukan guna melengkapi berkas yang akan disampaikan. Data-data yang sudah dikantongi penyidik, sudah dituangkan dalam berkas. Namun demikian, masih ada kekurangan yang harus dipenuhi.

Ditanya soal target pelimpahan, Trunoyudo tidak dapat memastikannya. Yang jelas, pelimpahan baru akan dilakukan jika berkas perkara sudah lengkap dan sempurna.

"Setelah sempurna seluruh proses administrasi penyidikan, baru kita limpahkan," tuturnya.

Untuk tahap pertama, tambah Trunoyudo, berkas perkara akan dikirim ke jaksa penuntut umum (JPU). Jika sudah dinyatakan lengkap, maka akan dilanjutkan dengan pelimpahan tahap kedua, yaitu penyerahan alat bukti dan tersangka kepada JPU.

"Tidak ada target waktu. Secepatnya kita rampungkan," tandasnya.

Seperti diketahui, Polrestabes Bandung saat ini menangani kasus pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan korban tewas. Dua tersangka, A (24) dan W (39), sudah ditangkap. Pekan lalu, polisi juga menggelar reka ulang di enam lokasi berbeda.

Sejauh ini, berdasarkan hasil pemeriksaan tersangka dan barang bukti, polisi menyimpulkan motif kematian Sisca Yofie, yaitu pencurian dengan kekerasan. Kedua tersangka dijerat pasal 365 ayat 4 tentang pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan korban tewas.
(B.98/B.114)**