E-PAPER
ARSIP
kabar utama
Rabu, 03 april 2013 00:09 WIB

Emas di Gunung Padang

CIANJUR (GM) - Adanya kandungan besi dan emas di bawah situs megalitikum Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, sebagaimana diungkap Tim Terpadu Penelitian Mandiri Situs Gunung Padang ternyata tidak terbantahkan. Hal itu dibenarkan Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Cianjur, Bachrudin Ali.

"Memang benar di bawah situs Gunung Padang itu ada kandungan emas dan besi. Karena Gunung Padang berada pada jalur guratan Gunung Rosa yang memiliki kandungan emas dan besi," kata Bachrudin Ali, Selasa (2/4).

Menurutnya, hampir seluruh gunung yang sejalur dengan Gunung Rosa memiliki kandungan besi dan emas. Demikian juga yang terdapat di Gunung Padang. Berdasarkan hasil penelitian, jalur emasnya sampai ke Sukanagara, Tanggeung, Cibinong, Cikadu, Naringgul, dan ke arah Garut.

"Jangan kira, jalur pertambangan emas Pongkor Bogor saja sudah sampai di Cianjur. Memang di bawah situs gunung ada kandungan besi dan emas, itu tidak bisa dipungkiri. Masyarakat juga sudah tahu, hanya deposit besar kecilnya saja yang belum diketahui," tegasnya.

Terkait dengan penelitian ulang terhadap keberadaan situs megalitikum Gunung Padang, Pemkab Cianjur sudah memberikan izin penelitian ulang. Hanya saja sampai saat ini belum mendapatkan laporan dari hasil penelitian tersebut.

"Bagi Pemkab Cianjur yang terpenting tidak merugikan masyarakat, semuanya kita koordinasikan dengan pemerintah pusat. Termasuk masalah pembebasan lahan sejauh mana artefak (luasan) kita koordinasikan," katanya.

Butuh teknologi

Sebelumnya Ketua Tim Terpadu Penelitian Mandiri Situs Gunung Padang, Ali Akbar mengungkapkan bahwa pembuatan bangunan situs secara pundak berundan, memerlukan teknologi tak sembarangan. Artinya, masyarakat saat itu sudah mengenal teknologi konstruksi yang modern, baik dari segi pemilahan, penyusunan, maupun penguatan bangunan.

Hal itu dibuktikan dengan hasil uji laboratorium yang menemukan perekat batu atau semen purba di sela-sela columnar joint. Menurut Ali, semen purba itu mengandung besi atau verum yang sangat tinggi.

"Kandungan verum pada semen yang belum ada namanya itu sangat tinggi. Jumlahnya sekitar 45 persen jika berdasarkan hasil laboratorium. Artinya memang masyarakat waktu itu mampu mengolah mineral menjadi besi. Masyarakat pada waktu itu mengenal pimpinan kharismatik dan perencana ulung yang telah mengenal manajemen yang efektif. Kami juga menduga, masyarakatnya saat itu merupakan kaum relijius. Kecil kemungkinan masyarakat saat ini kaum barbar," tuturnya.

Untuk membuat peralatan yang mengandung unsur verum yang cukup tinggi membutuhkan proses dengan melelehkan sejumlah mineral besi dengan jumlah yang cukup banyak. Karena itu pembuat Gunung Padang yang dilakukan manusia ini sudah mengenal teknologi yang cukup tinggi pada waktu itu. "Dugaan tidak hanya lokasi situs, kemungkinan besar juga terdapat lokasi pertambangan besi," katanya.
(B.101)**