E-PAPER
ARSIP
kisah
Kamis, 13 desember 2012 00:29 WIB

Ketika Cinta Tak Bisa Terbendung (5-Tamat)

Hanya pada Ibuku Aku Mengadu

TELAH diceritakan sebelumnya, Sujana yang terlalu mengumbar nafsu akhirnya terperosok sendiri. Ia menceraikan istri mudanya dengan harapan rumah tangganya rukun kembali, tetapi istri tuanya malah membalas dendam. Intan malah bermain serong dengan pria lain. Rumah tangga Sujana pun sering cekcok. Perceraian pun tak terelekkan. Celakanya, ia pun harus kehilangan pekerjaan. Bagaimana nasib Sujana? Inilah akhir kisahnya yang ditulis D. Ruspiandy untuk Anda.
KEADAANKU semakin tidak menentu. Aku selalu mengurung diri di kamar. Aku kehilangan gairah hidup. Kondisi ini akhirnya diketahui ibuku. Demi kebaikanku, rumah di Soreang dijual untuk didibelikan rumah lagi di tempat lain. Menurut ibu, jika mendapatkan rumah baru di tempat yang banyak orang yang mengenalku, setidaknya aku bisa berubah.

Terus terang, setelah di-PHK dan bercerai dari isteriku, semangat hidupku seperti tak ada atau boleh dikatakan aku mengalami post power syndrome. Aku merasa minder dan hilang rasa keprecayaan diri. Aku betul-betul tidak memiliki sedikit pun kemauan untuk melamar pekerjaan atau berusaha dengan cara lain, bawaannya malas. Aku hanya tidur dan tidur.

Awal tahun 2011 ibuku membeli rumah di kawasan Babakan Cianjur, Kecamatan Andir, Kota Bandung, dekat Landasan Udara Husein Sastranegara. Biarpun seringkali aku merepotkan ibu tetapi dia sangat berbaik hati. Aku dibelikannya pula sepeda motor agar aku bisa pergi ke mana-mana, paling tidak bisa digunakan untuk mencari pekerjaan.

Beruntung, tinggal di sana itu dekat dengan teman-temanku sewaktu SMP. Aku menemui Wawan teman SMP-ku. Selanjutnya aku ikut bekerja bersmanya di bidang pemasangan kaca film dan audio mobil. Walaupun dengan penghasilan yang tidak menentu, tetapi hal itu bisa memenuhi kebutuhan untuk kedua anakku. Tetapi sayang karena temanku itu memiliki kebiasaan meminum minuman keras akhirnya aku pun terbawa dan aku pun sering mabuk.

Akhir tahun 2011 ada kegiatan reuni alumni SMPN 7 Cimahi. Acara tersebut betul-betul telah membuka membuka mataku. Aku tersadar bahwa masih ada kesempatan untuk aku bisa bercengkerama dengan dunia luar. Perlahan hal itu kutapaki dan aku pun bisa bertemu dengan wajah-wajah lama yang dulu tak pernah aku lihat. Dengan sepeda motor pemberian ibuku, aku bisa ke sana-ke mari menemui temanku.

Pada bulan Ramadan tahun 2012 atas kebaikan salah seorang temanku, aku diberi kesempatan untuk bekerja di pabrik tenda di kawasan Marga Asih, Kabupaten Bandung. Dengan adanya motor itu aku bisa pergi ke tempat kerja tanpa mengeluarkan ongkos. Kupikir dengan aku bisa bekerja maka aku memiliki kegiatan yang bisa mengisi hari-hariku saat itu.

Baru empat hari bekerja sebuah peristiwa kualami. Mungkin itu karena kelakuanku sendiri yang tidak puasa saat itu. Saat motor kuparkir menjelang Maghrib ternyata aku lupa mencabut kunci motorku. Saat aku aku mau masuk dulu ke tempat pembuatan tenda. Selang beberapa saat aku kembali dan melihat motor sudah tak ada di tempat. Seluruh badanku seketika lemas dan aku hanya bsia terdiam tak bisa berbuat apa-apa. Rasanya saat itu aku ingin menangis sejadi-jadinya, mengapa kesialan itu selalu dialami olehku. Apakah semua itu terjadi karena perbuatanku yang telah dilakukans elama ini?

Aku sadar mungkin dulu aku tak pernah mendengar perkataan ibuku untuk tidak menikah sewaktu muda. Kemudian aku terbayang wajah mantan isteri mudaku. Membayangkan wajahnya aku semakin iba. Aku telah melakukan sesuatu yang membuatnya menderita. Terus aku membayangkan wajah isteri tuaku yang telah mengisi hari-hariku. Ah, semuanya semakin membuat kepalaku pening. Terakhir aku membayangkan wajah kedua anakku. Aku harus bisa membesarkannya. Tapi mungkinkah aku bsia melakukannya, semenatara aku sendiri kini tak berdaya menghadapi kehidupan?

Boleh jadi semua yang terjadi menimpaku adalah buah dari perbuatanku sendiri. Semua itu ada konsekuensinya dan apa yang menimpaku adalah hasil yang harus aku dapatkan dengan segala perbuatan konyolku. Kedua wanita yang pernah mengisi hari-hariku kini tak ada lagi di sampingku. Beruntung aku masih memiliki ibu yang masih peduli dengan keadaanku dan dua anak laki-laki yang masih bisa menghiburku. Oh Tuhan berilah kesempatan aku bisa mengubah keadaanku agar aku bisa kembali menjadi baik dan mampu mengisi hari-hariku dengan segala kebaikan.
**