E-PAPER
ARSIP
kisah
Kamis, 07 maret 2013 00:48 WIB

Titip Salam dari Bahrain (2)

Harapan itu Sirna Ditelan Kemunafikan

JALINAN asmara yang begitu lengket, ditambah kesetiaan Asep yang tak ada tandingannya, membuat hati Sumirah tidak hanya berbunga-bunga, tapi juga menyimpan sejuta harapan. Dalam bayangannya, ia akan mempunyai seorang suami yang terpelajar, gagah, ganteng, setia, dan baik hati. Namun, harapan itu sirna, pupus ditelan kemunafikan. Berikut kisah selengkapnya seperti yang ditulis Denny Kurniadi.
LALU, pembicaraan serius terjadi. Tak lagi soal rindu tapi sudah melebar membahas perkawinan. Asep mengutarakan niatnya untuk melamar Sumirah, meski kuliahnya belum beres. Sumirah pun setuju-setuju saja, tapi tentunya harus dirundingkan dengan kedua orangtuanya.

Orangtua Sumirah sangat bahagia mendengar niat Asep. Mere membayangkan bakal mempunyai mantu yang bisa mengangkat harkat derajat keluarga. "Mana ada di kampung kita yang punya mantu seorang insinyur," begitu celoteh bapaknya.

Orangtua Asep pun setuju, meski memang awalnya menolak. Terutama bapaknya, karena ia menginginkan Asep menyandang gelar sarjana dulu. "Jajauheun nepika digawena mah," ujar ayahnya.

Tapi Asep bersikeras menikah ssaat itu juga. "Jangan takut Pak, kuliah pasti beres," ujarnya.

Akhirnya rencana pernikahan dimatangkan. Kedua pihak sepakat menentukan hari pernikahan, yaitu tanggal 13 Januari 2011. Tanggal itu sengaja dipilih Asep dan Sumirah, pas dengan tanggal resmi mereka menjalin hubungan saat di SMA dulu.

Persiapan sudah dilakukan kedua pihak. Bagi orangtua Asep, uang tidak jadi soal, maklum secara ekonomi mereka tidak kekurangan. Berbeda dengan yang dirasakan pihak Sumirah. Lumayan kalang kabut. Biaya pernikahan bagi mereka dirasakan tidak sedikit dan cukup berat. Beruntung ada pinjaman dari sana sini.

Berapa tamu yang akan diundang, menu apa saja yang akan menjadi hidangan prasmanan, bagaimana tata cara upacara walimahan dan segala sesuatunya sudah dipersiapkan bersama saudara-saudara dan tetangga. Kedua pihak tinggal menunggu hari bahagia.

Hingga tiga hari mendekati hari "H", sebuah berita sangat mengagetkan didapat Sumirah. Ia menerima short message service (SMS) dari orang tak dikenal yang menyatakan bahwa Asep telah menghamili seorang gadis SMA. Bahkan, saat itu Asep sedang berurusan dengan keluarga si gadis. Asep didesak untuk mengawininya.

Sumirah tentu kaget. Orang Sunda bilang, "Asa kabentar gelap tengah poe ereng-erengan". Tapi, Sumirah tidak percaya begitu saja. Ia takut SMS itu hanya dikirim orang yang iri atau benci pada Asep. Maka, Sumirah segera mencari tahu kebenarannya dengan mendatangi rumah Asep. Namun, ia hanya bertemu kedua orangtuanya. Ibu Asep menangis dan menerangkan kejadian yang sebenarnya.

"Enya Neng, si Asep teh kitu kalakuan geuning," katanya sambil berurai airmata.

Ternyata benar, Asep dipaksa menikahi gadis yang dihamilinya. Pernikahan akan berlangsung esok hari.
(bersambung)**