HOME  
Edisi: Senin, 01 Maret 2010
BERITA UTAMA
Dewata Jadi Kuburan Massal
Tawa Ceria Anak di Pengungsian
Angin Rusak 40 Rumah
Polisi Amankan 39 Imigran Gelap
Ratusan Rumah Terendam Banjir
Puluhan Anggota Geng Motor Hancurkan Gerobak Pedagang Bakmi
Farhan Ingatkan Target Persib
BANDUNG RAYA
Situs Sejarah Terancam Punah
Ketua DPRD Jabar Minta Polemik Gedung Palaguna Dihentikan
Pertumbuhan Hotel di Bandung Sudah Jenuh
PD Kebersihan Tambah Tenaga Penyapu Jalan
250 Pohon Akan Hijaukan Desa Buah Batu
Telkom Akuisisi 75% Saham AdMedika
Jadwal Perjalanan KA Berubah
Indonesia Jadi Negara Kedua Pengguna Opera Mini di Dunia
Pansus BUMD Cocokkan Keterangan Para Saksi
Maribaya Menarik Minat 2 Investor
Pelaku Diduga Bukan Profesional
"Manusia Akar" Jalani Perawatan di RSHS
Koordinasi sebagai Kunci Keberhasilan
DAERAH
Cadas Pangeran Rawan Longsor
Tabrakan Adu Bagong 1 Tewas 3 Terluka
Belasan Pasangan Mesum Dirazia
Ribuan Warga Saksikan Cap Gomeh
Tiga Pemakai dan Penjual Ganja Diringkus Petugas
Bocah Ditemukan Tak Bernyawa Lagi
Ribuan Peziarah Hadiri Panjang Jimat
Pedagang Pasar Rebo Tolak Relokasi
Samsat Keliling Mampu Layani 200 Wajib Pajak
OPINI & PENDIDIKAN
Pemprov Tak Anggarkan Rehab SMP
Kesalahan Manajemen Century dan Potensi Serupa di Jabar
Perkawinan Dua Kubu
BNPB Bantu Pendidikan Anak
Tim Roket Unikom ke Babak II
OLAHRAGA
Persib Optimistis Bisa Bersaing
"El Loco" Undang 99 Anak Yatim
Doakan Persib di Tanah Suci
Berjanji Kawal Stadion Gedebage
Kalahkan Persiwa, Persiba Jaga Jarak
Persikab Andalkan Cahya
Arif Abdul Hafiz Tak Terbendung
STIE Ekuitas Tekuk Itenas Bandung
Horor Shawcross
Bersatu untuk Ramsey
Fabregas, "Kami Kurang Dilindungi"
Barca Mulai Membaik Madrid Makin Perkasa
”Senang Ada di Indonesia”
ESKUL
Kejar Prestasi Tak Lupakan Imtak
Paskibra? Bikin Bangga!
Wajib Diikuti Siswa
Wow! 63% Remaja Berbuat Seks bebas
Nilai Moral Sudah Menurun
Mutu Manajemen Berstandar ISO 9001:2008
"Masih Setengah Hati"
Mutu Layanan
Senin, 01 Maret 2010
Proses Evakuasi Dihentikan Senin (1/3) Pukul 12.00 WIB
Dewata Jadi Kuburan Massal
DENI SAHBUDIN/GM
TIM SAR gabungan melakukan evakuasi korban di lokasi longsor, Kp. Dewata, Desa Tenjolaya, Kec. Pasirjambu Ciwidey. Direncanakan hari ini, Senin (1/3) merupakan hari terakhir evakuasi korban longsor.
PASIRJAMBU,(GM)-
Proses pencarian korban longsor di Perkebunan Teh Dewata, Afdeling Dewata Pusat, Kp. Dewata, Desa Tenjolaya, Kec. Pasirjambu, Kab. Bandung, akan dihentikan petugas gabungan TNI dan Polri, Senin (1/3) tepat pukul 12.00 WIB. Sebab itu, kalaupun hingga proses pencarian terakhir korban tetap tidak ditemukan, pihak keluarga mengaku sudah mengikhlaskannya.

Kepastian penghentian proses pencarian ini, terungkap dalam rapat antara Muspida Kab. Bandung dengan keluarga korban yang masih tertimbun, di salah satu ruang kelas SD Dewata, Minggu (28/2). Tampak hadir Kapolres Bandung AKBP Imran Yunus, Bupati Bandung Obar Sobarna, Dirut Kantor Bersama Perkebunan (KBP) Chakra Rachmat Badruddin, unsur muspika setempat, para relawan, dan keluarga korban.

Hampir semua keluarga korban mengikhlaskan kepergian sanak keluarganya, yang masih tertimbun. Mereka juga akan menerima dengan lapang dada, kalau memang petugas gabungan menghentikan pencarian korban yang masih tertimbun.

"Kalau memang petugas menghentikan pencarian dan suami saya Juju tetap tidak ketemu, saya mengikhlaskannya. Mungkin ini sudah takdir yang harus saya terima," ujar Ny. Mia yang sejak rapat dimulai, tidak henti-hentinya menyeka air mata.

Dijelaskan Ny. Mia, dirinya memaklumi kalau petugas menghentikan proses pencarian. Selain sudah terlalu lama, kondisi lapangan pun sangat sulit untuk proses evakuasi. "Sekali lagi saya terima dengan ikhlas kalau tempat tersebut menjadi kuburan massal, karena masih banyak warga termasuk suami saya tertimbun longsoran," tegasnya.

Kapolres Bandung AKBP Imran Yunus menuturkan, dalam proses pencarian korban yang tertimbun, petugas sudah berusaha semaksimal mungkin. Bahkan jika awalnya untuk mengeruk tanah hanya menurunkan 2 alat berat (backhoe), kini alat berat yang diturunkan mencapai 4 unit.

"Selain alat berat, ada juga warga atau relawan yang mencari dengan cara manual. Kita sudah melakukan pencarian semaksimal mungkin," ujarnya.

Dihentikannya proses pencarian, lanjut Imran, selain karena masa tanggap darurat berakhir, juga kalau dipaksakan jenazah korban sudah mulai membusuk dan rapuh. "Makanya lebih baik dihentikan. Alhamdulillah pihak keluarga korban yang masih tertimbun sudah menerima hal tersebut dengan ikhlas," katanya.

Pernyataan serupa disampaikan Bupati Bandung Obar Sobarna. Menurutnya, petugas di lapangan sudah semaksimal mungkin mencari korban yang tertimbun. Selain mencari di lokasi longsor, petugas juga menyisir ke sungai-sungai.

Dijelaskan Obar, sebagai salah satu bentuk kepedulian atas musibah yang terjadi, Pemkab Bandung akan memberikan sumbangan bagi keluarga korban sebesar Rp 1 juta/orang. Pihaknya juga akan mengusulkan bantuan untuk keluarga korban ke Departemen Sosial.

4 jenazah lagi

Sementara itu, petugas TNI dan Polri kembali berhasil menemukan 4 jenazah korban, kemarin. Mereka adalah Jeni (24), Lilis Suminar (30), Risman (3), dan Ahmad Nuryadin (22). Dengan ditemukannya 4 jasad korban tersebut, berarti sejak Selasa (23/2), jasad korban yang berhasil ditemukan berjumlah 33 orang.

Korban lainnya sudah ditemukan, yaitu Asny (3), Eka Amad (25), Kirana (4), Nendi (13), Dasep (4), Mak Enah (60), Adang Engit (44), Isman (28), Iis (25), Vanesa (2), Ina (2), Yulis (22), Otih (55), Eti (44), Neni (26), Jajang (52), Cicih (50), Sahna (52), Ayi Oleh (45), Ibu Amin (45), Amin (45), Isman (3), Neneng (13), Enyi (50), Eulis Iwan (30), Oneng (50), Weni (26), Isti (3), dan Hadin Komarudin (44).

Sedangkan 11 korban yang hingga kini belum ditemukan, Entin Yayat (40), Salfa (1), Eulis Ardi (25), Rani (2), Ratna (25), Juju (40), Ikhsan (4), Alfar Irvansyah (3), Irwan (25), Ida (3), dan Syifa (7 bulan).

Dirut PT KBP Chakra, Rachmat Badruddin menuturkan, pihaknya secepatnya akan mengaktifkan kembali Perkebunan Teh Dewata. Terkait dengan hal itu, agar para pekerjanya aman dan tidak waswas, pihakya juga akan meminta ahli geologi untuk menentukan daerah mana saja yang rawan longsor dan tidak.

"Kita sudah mulai melakukan penelitian dengan ahli geologi, untuk mengetahui daerah mana saja yang aman maupun yang rawan longsor. Hasil penelitian sementara, daerah yang rawan longsor justru hanya sedikit. Saya juga tidak mau mempekerjakan karyawan di daerah yang tidak aman," ujarnya sambil menambahkan, luas Perkebunan Teh Dewata mencapai 600 ha.

Menurut Rachmat, dengan masih adanya daerah yang aman, dalam 10 hari ke depan pihaknya mencoba membuka kembali lahan dan mempekerjakan para karyawannya. "Sedangkan untuk menghilangkan trauma para pegawai, kita juga mendatangkan psikolog," ujarnya.

Dituturkan Rachmat, meski pabrik pengolahan teh Dewata ada yang terkena longsor, namun hasil petikan para pegawainya bisa disalurkan ke pabrik lain yang masih satu grup Chakra, seperti pabrik di daerah Kanaan. "Jadi jika pabrik di sini tidak beroperasi, kita bisa mengirimkan hasil petikan tersebut ke pabrik di Kanaan," ujarnya.

Banjir Baleendah

Di Baleendah, sejumlah pengungsi korban banjir yang bertahan di pengungsian, mengeluhkan pasokan air bersih yang mereka nilai sangat minim atau kurang. Akibatnya, mereka kesulitan air bersih untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci dan kakus (MCK) serta kebutuhan lainnya.

"Setelah dua minggu peralatan mesin penyedot air rusak di pengungsian, ratusan pengungsi korban banjir di tempat ini (gedung salah satu partai politik, red) mengalami kesulitan air bersih," keluh Daliah (30) kepada "GM" sambil menggendong anaknya yang masih balita di Jln. Jaksa Naranata, Kel./Kec. Baleendah.

Menurut Daliah yang dibenarkan pula oleh Neneng, pengungsi lainnya, kalaupun ada pasokan air bersih dari pemerintah ke lokasi pengungsian, volume maupun kapasitasnya tidak memenuhi kebutuhan para pengungsi.

"Di tempat pengungsian ini ada sekitar 400 jiwa yang masih bertahan, sedangkan pihak terkait hanya mengedrop air bersih dalam sehari satu tangki. Sebab itu, pengiriman air sebanyak itu sangat kurang, karena tidak mencukupi kebutuhan untuk para pengungsi," tutur Daliah.

Dijelaskannya, adanya pasokan air sebanyak itu kerap membuat pengungsi berebut air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Setiap ada kiriman satu tangki air bersih, dalam dua jam langsung habis. Coba saja lihat, baru aja didrop, air sudah habis. Sementara para pengungsi masih banyak yang membutuhkan air untuk hari ini," katanya.

Ditambahkan Neneng, semestinya dalam sehari pihak terkait menyalurkan air bersih minimal dua tangki. Pasokan air tersebut, bisa meminimalisasi kekurangan para pengungsi untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

"Saat pertama ada bantuan toren atau tempat penampungan air ke lokasi pengungsian, pasokan air sempat mencapai dua tangki. Tapi besoknya lagi dan hingga sekarang, tetap saja dikirim satu tangki. Akibatnya, banyak para pengungsi yang tidak kebagian air," katanya.

Akibat minimnya pasokan air selama dua minggu ini, lanjut Neneng, para pengungsi sempat mencari tambahan air ke sejumlah rumah warga yang dekat dengan lokasi pengungsian. "Namun karena mungkin merasa terganggu, ada warga yang kemudian melepaskan mesin penyedot airnya. Mungkin, karena kami terlalu keseringan minta air, sehingga mereka membongkar mesin pompa airnya," keluhnya.

Kekurangan air bersih juga dialami sejumlah pengungsi, yang menempati kantor Kwarcab Pramuka Kab. Bandung di Jalan Raya Wiranataadikusumah Baleendah. "Tempat penampungan airnya bocor, jadi air yang ditampung terbuang begitu saja. Atos lami penampungan cai teu dianggo," keluh Nunung (77), seorang pengungsi di kantor tersebut.

Minimnya pasokan air bersih dibenarkan Camat Baleendah, Drs. Usman Sayogi, J.B., M.Si. ketika dikonfirmasi "GM" di ruang kerjanya. "Memang selama ini pasokan air belum maksimal. Termasuk bantuan tempat penampungan air yang disalurkan ke lokasi pengungsian, ada yang bocor. Akibatnya air terbuang percuma," katanya.

Selain itu, tambah Usman, kualitas air yang disalurkan ke pengungsian kurang bagus. "Mungkin dalam pengolahannya terlalu banyak kaporit. Itu saya alami sendiri, saat mencoba meminum air yang dipasok dari tempat pengolahan air bersih di Dayeuhkolot untuk para pengungsi," katanya.

Ia juga menjelaskan, hingga kemarin para pengungsi yang bertahan di empat lokasi pengungsian di Kec. Baleendah mencapai 1.550 jiwa. "Mereka bertahan di Gedung Juang 650 jiwa, kantor partai politik 400 jiwa, Gedung Serba Guna Kel. Baleendah 400 jiwa, dan Kwarcab Pramuka 80 jiwa," katanya.

Pascabencana banjir di Kec. Baleendah, Ahmad, salah seorang pengelola/pengurus pengungsi di kantor salah satu partai politik berharap, bencana banjir yang sudah berlangsung selama enam minggu itu bisa segera berakhir. "Anak-anak mengajak terus pulang ke rumah. Sedangkan rumah saya sudah rusak dan saat ini belum dibersihkan, karena masih tertutup genangan air dan lumpur setinggi 50 cm," keluhnya.

Mengingat rumahnya yang terus kebanjiran, ia berharap pemerintah segera merelokasi mereka ke tempat lain. "Yang penting saya bisa menempati rumah yang aman dan terbebas dari banjir. Kalau terus bertahan di pengungsian, sudah tidak nyaman. Soalnya kasihan anak-anak," tuturnya.

Pasalnya, katanya, bencana banjir selain merusak dan menghancurkan seisi rumah, rumahnya pun sudah tidak layak huni lagi. "Warga yang rumahnya di Kp. Cieunteung, masih banyak yang belum kembali. Soalnya, masih tertutup lumpur dan belum dibersihkan," katanya. (B.97/B.105)**
Share

copyright © 2001 www.klik-galamedia.com