HOME BERITA UTAMA BANDUNGSOREANGCIMAHIPADALARANGJATINANGORDAERAHHIBURANSHOPPINGRAMADAN OLAHRAGA KISAH
NYUKCRUK GALUR
Minggu, 08 November 2009
Angklung Buncis Ritual Panen
AWAL September lalu di Saung Angklung Udjo Bandung, sejumlah anak kecil, baik laki-laki maupun perempuan, tampak gembira membawakan seni angklung buncis. Kaum perempuan menari dengan lincah mengikuti irama musik angklung yang dimainkan sejumlah anak laki-laki seraya berteriak-teriak sambil membawa angklung, kendang, terompet, dan alat musik lainnya. Seorang laki-laki bertubuh tinggi membawa seutas cambuk.

Rupanya lelaki itu adalah dirigen pengatur lagu dan rombongan pemain angklung serta penari yang tengah membawakan kesenian angklung buncis. Sedangkan instrumen yang digunakan dalam kesenian ini adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan terompet, kecrek, dan gong.

Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya "Badud", "Buncis", "Renggong", "Senggot, "Jalantir", "Jangjalik", "Ela-ela", "Mega Beureum". Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini secara khusus dibawakan wanita.

Gerakan yang dinamis dan ekspresi gembira menjadi ciri khas angklung buncis. Berbeda dengan angklung biasa, baik dimainkan sendiri atau mengiringi penyanyi, angklung buncis tidak mengiringi penyanyi. Para pemain itu sendiri yang meramaikan musik angklungnya, yaitu dengan teriakan-teriakan dan sorak-sorai. Diawali dengan berjalan membentuk lingkaran, sambil mengikuti irama, mereka bermain sambil duduk, jongkok, bahkan berbaring.

Memang ada beberapa versi asal mula kesenian angklung ini. Ada yang menyebutkan kesenian khas Priangan (Bandung dan sekitarnya), ada pula yang menyebutkan khas Kabupaten Kuningan. Kesenian ini merupakan kreasi sesepuh adat, Pangeran Djatikusumah yang memperoleh inspirasi dari keseharian masyarakat setempat.

Angklung buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan. Di antaranya terdapat di Baros (Arjasari, Bandung). Pada mulanya, angklung buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan dengan padi. Tapi sekarang digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan lama.

Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu, tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit) mulai menghilang dari rumah-rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis dan mudah dibawa ke mana-mana.

Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian, kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.

Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle..., dan seterusnya. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.

Ritual Sunda

Kesenian angklung buncis erat kaitannya dengan ritual masyarakat Sunda saat mengolah ladang atau sawah. Perenungan masyarakat Sunda dulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya: Si Oyong-oyong/ Sawahe si waru doyong/Sawahe ujuring eler/Sawahe ujuring etan/Solasi suling dami/Menyan putih pengundang dewa/Dewa-dewa widadari/Panurunan si patang puluh... (kiki kurnia/ "GM"/ berbagai sumber)**
Share

copyright © 2001 www.klik-galamedia.com