AKU akan berikan ilmu penakluk buaya. Tapi ingat, ilmu ini bukan untuk membunuh buaya, melainkan untuk mengusir buaya-buaya galak agar jangan mengganggu keselamatan hidup manusia," pesan Ki Kuncen Darip kepada Abah Karhan. Bagaimana kelanjutan kisah Abah Karhan? H. Untung Sunaryo mengisahkan." />
HOME BERITA UTAMA BANDUNGSOREANGCIMAHIPADALARANGJATINANGORDAERAHOPINIHIBURANESKULRAMADAN OLAHRAGA KISAH
KISAH
Sabtu, 04 September 2010
Di Mana Pusara Suamiku Berada? (3)
Kabar itu Mengejutkanku
PADA kisah sebelumnya diceritakan, Ny. Tatat hanya ditengok suaminya dua tahun sekali. Setiap kali ditengok setiap kali itu pula ia mengandung lalu melahirkan anak sehingga ada orang yang menggunjingkannya. Lalu apa yang terjadi? Inilah akhir kisahnya yang ditulis H. Undang Sunaryo.

Jumat, 03 September 2010
Di Mana Pusara Suamiku Berada? (2)
Tiga Kali Pulang, Tiga Kali Hamil
PADA kisah yang lalu dituturkan, meski setengah hati Ny. Tatat menikah dengan Ipin. Pernikahan mereka berlangsung sangat sederhana. Hanya beberapa orang tetangga yang mereka undang. Laki-laki yang masih ada ikatan saudara dengannya itu meninggalkannya untuk melanjutkan tugasnya di Malayasia. Sang suami hanya datang dua tahun sekali. Bagaimana kisah rumah tangga Ny. Tatat selanjutnya? Ikuti tulisan H. Undang Sunaryo ini.

Kamis, 02 September 2010
Di Mana Pusara Suamiku Berada? (1)
Aku Terpaksa Menerimanya
LEBIH dari 23 tahun Ny. Tatat (bukan nama sebenarnya) berumah tangga, namun warga Jatinangor, Kab. Sumedang ini selalu ditinggal Ipin (juga bukan nama asli), suaminya, yang bekerja di salah satu perusahaan pelayaran Malaysia. Dua tahun sekali Ipin pulang hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis saja. Dan sungguh tragis saat menjalani pensiun, Ipin tewas tenggelam di perairan Colombo. H. Undang Sunaryo mengisahkannya untuk Anda.

Senin, 30 Agustus 2010
Ijab Kabul Selesai, Suamiku Dijemput Polisi (4)
KANG Eman berupaya semaksimal mungkin mengumpulkan uang untuk persiapan pernikahan kami. Uang hasil kerja pun disisihkan meski sangat kecil. Tapi kulihat ia begitu gigih dan bersemangat untuk mengumpulkan uang.

Minggu, 29 Agustus 2010
Ijab Kabul Selesai, Suamiku Dijemput Polisi (3)
AKU heran dengan ucapan, padahal biasanya tidak begitu. Aku menyadari kalau pergaulan dengan sesama temannya banyak sekali pengaruh pada dirinya. Apalagi aku tahu, kalau teman-teman seringkali mengajak bermain bilIar dan menonton acara musik kesukaannya. Aku menjadi khawatir dia terbawa arus yang tidak baik dan berpengaruh sekali dalam dirinya.

Sabtu, 28 Agustus 2010
Ijab Kabul Selesai, Suamiku Dijemput Polisi (2)
AKU semakin bangga pada Kang Eman, karena sangat jujur dan terbuka kepadaku menyangkut apa saja yang dialaminya. Begitu pula di tempat kerjanya. Dia pun berterus terang berasal dari keluarga yang sederhana dan bukan orang yang terpandang.

Jumat, 27 Agustus 2010
Ijab Kabul Selesai, Suamiku Dijemput Polisi (1)
WANITA mana yang tidak akan berbinar wajahnya ketika hari pernikahan semakin dekat. Wanita mana pula yang tidak akan hancur hatinya ketika tahu kalau suaminya ternyata buronan polisi. Ny. Fitriani (24) tidak mengira sedikit pun akan mengalami nasib sepahit empedu ini. Padahal ia mengenal Eman, suaminya, sebagai sosok lelaki yang bertanggung jawab, jujur, dan sangat sopan kepada siapa pun. Namun ternyata semua itu kepalsuan belaka. Ikuti kisahnya yang ditulis Kuswari berikut.

Kamis, 26 Agustus 2010
Mengapa Ibu Tak Berterus Terang? (3)
SURYATI (20, bukan nama sebenarnya) mengaku sering dituding teman-temannya sebagai anak pelacur. Pasalnya sejak lahir hingga menjelang dewasa, Marwah ibunya hidup sendirian di Jakarta. Padahal ibunya yang juga warga sebuah desa di Kab. Bandung Barat ini, bersuamikan warga negara asing, yang enggan diketahui orang banyak. Bagaimana kisah lengkapnya? H. Undang Sunaryo mengisahkannya.

Rabu, 25 Agustus 2010
Mengapa Ibu Tak Berterus Terang? (2)
SURYATI (20, bukan nama sebenarnya) mengaku sering dituding teman-temannya sebagai anak pelacur. Pasalnya sejak lahir hingga menjelang dewasa, Marwah ibunya hidup sendirian di Jakarta. Padahal ibunya yang juga warga sebuah desa di Kab. Bandung Barat ini, bersuamikan warga negara asing, yang enggan diketahui orang banyak. Bagaimana kisah lengkapnya? H. Undang Sunaryo mengisahkannya.

Minggu, 22 Agustus 2010
Mengapa Ibu Tak Berterus Terang? (1)
SURYATI (20, bukan nama sebenarnya) mengaku sering dituding teman-temannya sebagai anak pelacur. Pasalnya sejak lahir hingga menjelang dewasa, Ny. Marwah ibunya hidup sendirian di Jakarta. Padahal yang sebenarnya ibunya yang juga warga sebuah desa di Kab. Bandung Barat ini, punya suami warga asing yang enggan diketahui publik. Bagaimana kisah lengkapnya? H. Undang Sunaryo mengisahkannya.

Senin, 08 Februari 2010
Abah Karhan Si Penakluk Buaya Muara (2)
Aku Berhasil Mendapatkan Ilmu Penakluk Buaya
"AKU akan berikan ilmu penakluk buaya. Tapi ingat, ilmu ini bukan untuk membunuh buaya, melainkan untuk mengusir buaya-buaya galak agar jangan mengganggu keselamatan hidup manusia," pesan Ki Kuncen Darip kepada Abah Karhan. Bagaimana kelanjutan kisah Abah Karhan? H. Untung Sunaryo mengisahkan.

DI Pantai Pameungepuk aku diberi pelajaran cara melawan buaya-buaya galak. Ki Kuncen mengundang buaya-buaya muara. Lalu jogol ngadu jajaten denganku. Hari pertama aku kalah, badanku sempat berlumuran darah terkena empasan ekor buaya. Tidak apa-apa. Namun pada hari ketiga hingga hari ketujuh, aku sudah mampu menaklukkan buaya. Aku bisa menutup mulut dan menangkis gerakan ekornya hingga buaya-buaya galak itu tak berdaya.

Pada malam hari, aku pernah didatangi buaya raksasa. Dengan mulut menganga, ia lantas bicara, "Jika kamu membantu kehidupan buaya-buaya muara, tunggu saja, kamu akan mendapat rezeki dari para buaya. Sebaliknya jika ilmu yang kamu miliki dipakai untuk membunuh buaya, tunggu saja datangnya bahaya!"

"Tidak! Tidak! Aku ngalap ilmu buaya, tak lain demi kemaslahatan masyarakat kami yang tengah dilanda derita!" begitu jawabku. Dan tak lama si raja buaya raksasa itu menghilang.

Setelah dianggap lulus uji, aku diizinkan pulang. Aku pulang dari Pameungpeuk ke Cipatujah sejauh 45 km berjalan kaki menyusuri pantai. Di perjalanan aku terpaksa menyeberangi beberapa sungai, di antaranya Sungai Ciwulan, Cikole, Cimedang, dll. dan di setiap muara seringkali aku bertemu buaya.

Hebat juga ilmu pemberian dari Pak Kiai dan Aki Darip itu. Setiap kali aku bacakan doa-doa penakluk buaya dan mengedipkan mata, buaya-buaya yang sedang berkeliaran di bawah pohon langsung berlarian ketakutan.

Sambil berjalan pulang, aku pun mencari telur-telur buaya di bawah pohon pandan yang terkubur tanah. Telur buaya yang tersimpan di dalam tanah itu aku masukkan ke dalam kantong untuk dibawa pulang. Telur buaya tersebut akan aku manfaatkan untuk mengobati masyarakat yang sedang dilanda busung lapar dan terserang malaria. Konon telur buaya mengadung protein yang tinggi dan bisa mengobati aneka macam penyakit.

Sesampai di Cipatujah aku bertemu rekan-rekan seperjuangan. Mereka rindu karena hampir dua bulan aku meninggalkan kampung guna mencari ilmu kedigjayaan. Teman-temanku mengatakan kelaparan sudah bisa diantisipasi setelah para ibu memanfaatkan singkong sebagai makanan sehari-hari.

"Hanya sekarang masyarakat sedang dirundung ketakutan, mengingat Jepang membangun kamp-kamp perlawanan. Dan para pemuda termasuk kaum laki-laki dipaksa melakukan peperangan," kata Mang Ened.

"Selagi tentara Jepang tak mengganggu keselamatan warga kita, biarkan saja. Kita punya tugas menyelamatkan masyarakat, jangan sampai ada yang meninggal akibat busung lapar dan malaria," kataku sambil memberikan ribuan butir telur buaya untuk dibagi-bagikan kepada masayarakat yang tengah terserang penyakit. (bersambung)**
Share

copyright © 2001 www.klik-galamedia.com