MENCARI nafkah untuk bertahan hidup di kota besar seperti Kota Bandung, menjadi alasan bagi Surti, wanita asal Kebumen berjualan kopi keliling. Berbekal berbekal kotak plastik dan termos, Surti berkeliling menjajakan kopi.
AWAL tahun 2010 merupakan masa yang sulit dan berat bagi Dadang (27), seorang tenaga kerja kontrak (TKK) di salah satu instansi Pemprov Jabar. Pasalnya, hampir semua temannya sesama TKK di instansi tersebut diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).
BANYAK jenis usaha yang telah dijalani Dindin (39) untuk menghidupi keluarganya. Namun, dari sekian banyak usahanya tersebut, tidak ada satu pun yang bertahan lama karena selalu saja merugi.
HUJAN deras yang mengguyur kawasan lahan kritis di sejumlah desa di Kec. Kertasari, Kab. Bandung, ternyata menjadi sumber pendapatan bagi sejumlah warga. Pasalnya lahan kritis yang digunakan untuk lahan pertanian sering menimbulkan erosi dan aliran lumpurnya sebagian jatuh ke badan Jalan Raya Kertasari.
PENGANGGURAN semakin banyak. Selain karena sulit mendapatkan lapangan kerja, membuka usaha pun tidak semudah yang dibayayngkan karena banyak saingan. Akibatnya pekerjaan dan usaha apa pun dilakukan asal menghasilkan uang meski harus menanggalkan gengsi.
"SOL spatu..sol spatu..." teriakan itu terdengar nyaring, melengking, hingga mengundang reaksi mereka yang mendengarnya. Suara itu saling berebut perhatian dengan teriakan lainnya, "Sayur..sayur.." atau "Tahu..tahu lembang...".
HARUS diakui, saat ini sepeda motor memang telah menjadi "raja" di jalanan Kota Bandung. Setiap hari diperkirakan puluhan ribu sepeda motor memadati jalan-jalan di Kota Bandung.
MENJADI pembantu rumah tangga (PRT) memang bukanlah pilihan menarik. Namun terkadang nasib yang dilatarbelakangi kekurangan ekonomi menjadi persoalan klise yang sering mengantarkan seseorang untuk menjadi pembantu rumah tangga.
SAAT turun hujan deras, warga Majalaya pasti sibuk dengan rutinitas tahunannya. Bebenah, mulai dari mempersiapkan kayu penghalang air, mengeluarkan air dari rumah dengan menggunakan ember, hingga membersihkan rumah dari sisa air dan lumpur. Itu dilakukan warga Majalaya hampir setiap tahun.
NAMA yang diakuinya adalah Agus. Usianya sekitar 45 tahunan. Tiba-tiba saja laki-laki ini muncul di sekitar Gedung Sate ketika aksi unjuk rasa 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono, dua hari lalu.
Senin, 08 Februari 2010
Terdampar di Bandung Jualan Kopi Keliling
MENCARI nafkah untuk bertahan hidup di kota besar seperti Kota Bandung, menjadi alasan bagi Surti, wanita asal Kebumen berjualan kopi keliling. Berbekal berbekal kotak plastik dan termos, Surti berkeliling menjajakan kopi.
"Selain kopi, saya juga jualan nasi kuning. Tapi nasi kuning ini punya bos," ujar wanita yang mengaku baru berusia 16 tahun itu.
Pagi-pagi sekali Surti dan juga beberapa orang temannya sudah berkeliling ke perkantoran di Kota Bandung. Mereka menawarkan nasi kuning dan kopi kepada karyawan dan PNS, kalau-kalau mereka belum sempat sarapan dan ngopi.
"Ya lumayanlah Mas. Kalau masih pagi banyak yang beli. Tapi kalau siang, nasi kuning kurang begitu laku. Lain halnya dengan kopi yang bisa laku dijual kapan saja," katanya.
Melihat kondisi tersebut, Surti harus pergi keluar rumah seperti orang-orang kantoran. "Yang lain ke kantor Surti juga ke kantor jualan nasi kuning," katanya sambil bercanda.
Awalnya Surti hanya menjual nasi kuning milik bosnya. Namun, setelah satu bulan berjalan, Surti mulai berpikir untuk menambah penghasilan. Dibelinya 10 bungkus kopi dan juga termos.
Tampaknya, uji coba jualan kopi mendapat sambutan baik dari pelanggannya. Hingga kini, Surti sudah satu tahun lebih berjualan kopi. "Ya untungnya lumayan buat menabung," katanya.
Saat ditanya tentang sekolahnya, Surti mengaku hanya tampat SMP. Sebelum berjualan kopi keliling, ia sempat bekerja di pabrik sebagai tenaga kontrak. Namun tidak berlangsung lama, karena perusahaan memberhentikannya dengan alasan pengurangan tenaga kerja.
"Saya akhirnya mengadu nasib di Bandung, karena ada kakak yang bekerja di restoran," katanya.
Bos tempat kakaknya bekerja, menawari Surti untuk menjual nasi kuning. Dari situlah awalnya Surti menjadi penjual nasi kuning keliling.
Melihat peluang bagus, Surti pun melebarkan sayap menjadi penjual kopi keliling. Perjuangan hidup yang harus diacungi jempol bagi anak desa yang bermental baja. (deni kusmawan/"GM")**