E-PAPER
ARSIP
eskul
Senin, 26 agustus 2013 01:56 WIB

Dadang Supriatna, S.Pd., M.Si., Kepala Sekolah

Jika Jepang Bisa, Mengapa Kita Tidak?

SEIRING bertambahnya laju pertumbuhan penduduk, lahan pertanian semakin menyempit. Areal persawahan produktif berubah menjadi perumahan dan pemukiman. Begitu pun dengan dataran tinggi yang mestinya dijadikan lahan pertanian, nasibnya tidak jauh berbeda dengan persawahan.

Mengingat lahan pertanian yang semakin lama semakin terbatas, para pakar pertanian pun berupaya mengubah pola tanam. Mereka terus bereksperimen agar bisa tetap bercocok tanam tanpa harus menyiapkan lahan yang luas. Berkat perkembangan teknologi, kini menanam tanaman pangan (bahan makanan pokok) dan holtikultura tidak perlu lagi tanah yang lapang. Sebab, tanaman bisa dibudidayakan dengan metode polibeg sehingga tetap bisa produktif dengan memanfaatkan lahan yang sempit.

Jepang dan Cina hasil pertaniannya tetap produktif sebab kedua negara ini dalam mengembangkan sektor pertanian tidak tergantung pada lahan yang luas, melainkan sanggup memanfaatkan lahan-lahan sempit yang produktif. Metodenya, ya itu tadi, dengan sistem polibeg. Bahkan untuk mengembangkan pertanian Cina membangun gedung dengan kapasitas 148 lantai.

Gedung pencakar langit itu akan dijadikan tempat budidaya pertanian tanaman pangan dan holtikultura. Tanah yang dipergunakan juga mengandung zat organik seperti kompos dan pupuk kandang sehingga tanpa menggunakan kimia supaya lebih ramah lingkungan serta menjaga kesetabilan unsur hara. Areal pertanian di dalam gedung bertingkat itu juga didukung dengan agroteknologi. Pertumbuhan bibit sesuai dengan kapasitas media yang dibutuhkan namun secara otomasis menghasilkan produksi sesuai keinginan.

Alih teknologi di Jepang dan Cina dengan gedung pencakar langitnya merupakan bukti konkret perkembangan sektor pertanian. Keterbatasan lahan tidak menyurutkan niat kedua negara ini untuk terus bertani. Dengan memanfaatkan teknokogi, mereka menyulap lahan yang sempit menjadi sumber produksi hasil pertanian yang berlimpah sehingga mampu menjual ke negara lain setelah kebutuhan dalam negerinya terpenuhi.

Jika Jepang dan Cina dengan lahan pertaniannya yang sangat terbatas mampu swasembada pangan, kenapa kita yang dianugerahi kekayaan berlimpah, tanah yang subur makmur dan luas sejauh mata memandang, tidak mampu? Dengan kapasitas lahan yang tersedia, bisa dibayangkan berapa banyak produksi pertanian yang dihasilkan negara kita apabila sanggup memanfaatkan teknologi pertanian. Yakinlah, dengan membentuk sekolah kejuruan agri bisnis dan agro teknologi, pemerintah kita tengah merancang tujuan ke arah itu.
(ayep setiadji/"GM")**