E-PAPER
ARSIP
syiar islam
Jumat, 22 juni 2012 00:23 WIB

Jika Pemimpin Berperilaku Buruk

Oleh : H. Usep Romli H.M.
DALAM ajaran Islam menjadi dan memilih pemimpin adalah wajib. Sehingga, setiap pemimpin harus mampu memikul kewajiban itu. Yang terpenting di antaranya, menjauhi perilaku buruk. Menyimpang dari amanah kepemimpinan. Pemimpin yang hanya menuntut hak, namun lupa sama sekali akan kewajiban berbakti kepada rakyat dan pemerintahan yang baik dan benar.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan, tiap penguasa yang membohongi rakyat, tak akan diizinkan oleh Allah SWT masuk surga (ayyuma waalin bataghatsan li ra'iyyatihi haramallahu alaihil jannah).

Kebohongan memang sudah menjadi kebiasaan para pemimpin masa kini. Dimulai dari masa kampanye dengan mengumbar janji-janji, hingga masa akhir jabatan yang seolah-olah tak peduli kepada pembuktian janji-janji itu. Berbicara bohong merupakan kebalikan dari berbicara benar. Dalam Alquran Surat Al-Ahzab : 70, Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk berbicara benar.

Kepada orang yang berbicara benar, Allah SWT berjanji meningkatkan kinerjanya, dan mengampuni segala kesalahannya. Sehingga berhasil meraih keunggulan luar biasa di segala bidang kehidupan (Q.S. Al-Ahzab: 71).

Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan, tiap penguasa pengurus kepentingan umat (Islam), besar maupun kecil, pada hari kiamat kelak akan diberdirikan di atas sebuah jembatan Neraka Jahannam. Malaikat yang bertugas di situ, menggojlok tubuh orang itu, hingga seluruh persendiannya terlepas. Lalu dikembalikan ke tempatnya masing-masing, untuk diproses verbal.

Jika ternyata baik dan jujur, selamatlah ia. Jika ternyata tidak baik, tidak jujur, menyeleweng, korup, langsung tersungkur jatuh ke dalam neraka selama tujuh puluh tahun (Riwayat Salman al Farisi dan Abu Dzar al Ghifari).

Mendengar hadis ini, Khaifah Umar bin Khattab tampak cemas. Beliau menyatakan, kalau begitu, mustahil ada yang mau menjadi pemimpin. Para sahabatnya serempak menjawab, "Pasti tidak ada, kecuali jika dipaksa".

Dan dalam hadis riwayat Iman Turmudzi, ditegaskan, pemimpin yang tidak baik menyangkut kinerja dan moralitas, maka perut bumi lebih baik daripada permukaannya. Fa batnul ardli khairulakum min dlahriha.

Sedangkan pemimpin yang cuma punya predikat, namun gagal menunjukkan prestasi dan reputasi sebagai pemimpin yang baik, termasuk salah satu dari enam orang yang dilaknat Allah SWT dan Rasul-Nya. (hadis riwayat Thabarani, Ibnu Hibban, dan Hakim).

Laknat serupa juga akan menimpa pemimpin yang mendapat amanat mengurus rakyat, namun melakukan praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN). Mengangkat sanak saudara, kroni, sejawat satu kelompok atau satu golongan dengan alasan untuk memperlancar dan memperkuat kinerja. Padahal sesungguhnya jelas-jelas KKN (hadis riwayat Hakim).

Memilih pemimpin berdasarkan fanatisme golongan, partai, mazhab, dan sebagainya, akan mengundang azab Allah SWT (Q.S. Al-An'am: 65). Menurut para ahli tafsir, azab itu disebut a-immatus su-i min umaraikum. Para pemimpin yang jahat, yang hanya menghendaki fasilitas, namun miskin aktivitas yang bermanfaat bagi khalayak luas.
**