E-PAPER
ARSIP
syiar islam
Jumat, 02 november 2012 00:18 WIB

Ketenangan Jiwa

Oleh : Muhamad N. Nurulhuda, S.Kom.I.
JIWA merupakan sesuatu yang abstrak, tidak bisa dilihat, diraba, dicium atau didengar. Namun kita bisa merasakan jiwa itu tampak, dalam arti tampak secara abstrak. Kita melihatnya dari pola tingkah laku manusia dalam menjalani kehidupannya.

Banyak para ahli filsafat dan filsuf yang mendefinisikan makna jiwa. Para penganut paham monoteisme misalnya, memandang bahwa jiwa dan badan pada dasarnya berasal dari sesuatu yang sama, dan tunduk pada hukum-hukum yang sama. Di lain pihak, para penganut paham dualisme memandang bahwa jiwa dan badan merupakan dua unsur yang berbeda asal. Kedua-duanya tunduk pada hukum yang berbeda. Tokoh dalam hal ini di antaranya Socrates (4 SM), Plato (3 SM), dan Aristoteles (3SM).

Lalu bagaimana pandangan Islam tentang jiwa? Islam memandang bahwa manusia memiliki dua substansi pokok, yakni badan atau jasad dan unsur halus atau rohaniah. Unsur halus atau rohaniah manusia terbagi juga ke dalam ruh (bersifat suci) dan jiwa itu sendiri. Menurut Alquran, di dalam jiwa (nafs) manusia terdapat tiga jenis jiwa (nafs), yakni jiwa amarah (an nafs al ammrah), jiwa lawwamah (an nafs al lawwamah), dan jiwa muthmainnah (an nafs al muthmainnah).*J>

Dari ketiga jiwa (nafs) tersebut, jiwa manusia mempunyai sifat yang beraneka ragam sesuai dengan keadaannya yang dapat menyebabkan konflik dalam jiwa.

Apabila jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturutkan ajaran setan, yang memang pada jiwa itu sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang menyuruh berbuat jahat (al-nafs al-ammarah bi as-sur), lihat Q.S. Yusuf ayat 53.

Tetapi apabila jiwa selalu dapat menentang dan selalu melawan sifat-sifat tercela, maka ia disebut jiwa pencela (al-nafs al-lawwamah), lihat Q.S. Al-Qiyamah ayat 2.

Sedangkan apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang tenang (al-nafs al-muthmainnah), lihat Q.S. Al-Fajr ayat 27-30.

Lalu bagaimanakah agar jiwa kita selalu mendapatkan ketenangan? Hal ini dapat kita temukan di dalam salat. Salat merupakan ibadah yang memiliki bentuk komunikasi transendental antara manusia dengan Rabb-nya. Ketika seseorang salat berarti dia telah menghadapkan, menyerahkan segala hidupnya kepada Allah semata.

Sedangkan menurut Thohari Musnamar setidaknya ada tiga cara agar jiwa kita mendapatkan ketenangan. Pertama, berlaku sabar. Hal ini dapat kita ketahui berdasarkan Alquran surat Al-Baqarah ayat 155-157. "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Kedua, membaca (dan memahami) Alquran. Alquran selain merupakan petunjuk hidup, juga merupakan penawar kehidupan yang tidak menentu. Firman Allah, "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman" (Q.S. Yunus: 57). Juga pada ayat lainnya, "Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian". (Al-Isra: 82) atau "Katakanlah: "Alquran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin" (Q.S. Fushilat: 44).

Ketiga, berzikir atau mengingat Allah. Apabila kita selalu berzikir/mengingat Allah maka jiwa/hati senantiasa akan merasa tenteram. Seperti dalam Alquran surat Ar-Rad ayat 28, "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." Wallahuallam.
(Penulis adalah pengurus DKM Masjid Thariqul Huda Komplek Bumi Panyileukan, Cibiru, Kota Bandung)**