E-PAPER
ARSIP
sketsa
Senin, 21 oktober 2013 00:44 WIB

Macan Tutul

Oleh : KIKI KURNIA
AKHIR pekan lalu, tim rescue berhasil menangkap hidup-hidup macan tutul jawa (panthera pardus melas). Macan tutul ini ditangkap tim dari Forum Konservasi Satwaliar Indonesia (FOKSI), Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Bogor, dan warga di hutan blok Cijengkol Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas daerah Jampang Kulon, Kan. Sukabumi.

Diperkirakan macan tutul tersebut berusia antara 8-9 tahun, panjang total 170-180 cm, seberat 40-50 kilogram. Penangkapan hidup-hidup macan tutul jawa ini merupakan yang pertama kali di kawasan Jampang Kulon tersebut.

Dari hasil obrolan dengan Koordinator Umum FOKSI, Tony Sumampau, telah terjadi perubahan yang signifikan di habitat macan tutul, yakni dika­wasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan Taman Nasional Gede Pangrango. Padahal jarak antara Taman Nasional Halimun Salak ke daerah Jampang Kulon cukup jauh, sampai puluhan kilo­me­ter. Selain itu, diduga telah terjadi perubahan prilaku dari macan tutul tersebut. Dari memangsa buruan di atas pohon di hutan menjadi pemangsa buruan di kawasan semak belukar dan perkebunan rakyat.

Akibatnya, sejak tahun 1982 hingga 1990 lebih dari 10 ekor macan tutul yang dibunuh warga setempat engan cara ditembak senapan angin serta ditusuk dan dibacok. Dagingnya kadang dimakan bersama atau diawetkan (off set). Kalau dihitung hingga tahun 2013 ini, mungkin ada lebih dari 20 ekor macan tutul yang ditangkap lalu dibunuh oleh warga.

Beruntung tim Rescue FOKSI dan TSI Bogor bisa menyelamatkan salah satu macan tutul tersebut. Diperkirakan masih ada beberapa ekor, mungkin puluhan ekor macan tutul di wilayah hutan di Jawa Barat yang nasibnya bisa seperti macan tutul yang telah dibunuh warga.

Tony Sumampau menyebutkan, hingga kini tidak ada data pasti mengenai keberadaan macan tutul di habitat asli di Pulau Jawa. Pasalnya, belum ada satu pun lembaga konservasi maupun LSM atau lembaga asing, termasuk pemerintah yang mau meneliti dan mendata macan tutul. Padahal, macan tutul merupa­kan hewan endemik Jawa, yang tidak akan ditemui di pulau lain di Indonesia maupun di luar Indonesia.

FOKSI kata Tony, sempat beberapa kali mengajukan proposal dan permohonan untuk penyelamat­an macan tutul, mulai dari seminar, saresehan, hingga penelitian dan pendataan serta pemasangan ka­mera trap di lapangan. Namun semuanya tidak ditanggapi oleh pemerintah maupun lembaga konservasi lokal dan internasional.

"Sepertinya mereka tidak engeh dengan kebera­daan hewan endemik Jawa ini. Mereka baru engeh apabila hewan ini sudah punah, seperti harimau Jawa," ucap Tony.

FOKSI pun berencana menanyakan komitmen Pemprov Jabar melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jabar yang telah menetapkan macan tutul sebagai maskot hewan Jabar. Namun hingga kini, tidak ada gerakan apapun dari Pemprov Jabar untuk menyelamatkan macan tutul tersebut. Pemprov Jabar lebih fokus pada pembangunan fisik, kesejahteraan dan kesehatan masyarakatnya. Sementara pada kesejahteraan satwa (satwa liar) tidak pernah diperhatikan.

Dulu, Pemprov Jabar mempunyai maskot hewan endemiknya berupa badal cula satu (rhinocerus sondaicus sondaicus). Namun setelah Banten berpisah dan menjadi provinsi sendiri, maskot badak pun ikut berpindah pula.

Pemprov Jabar pun mengalihkan pada hewan endemik lainnya, yakni macan tutul (panthera phardus melas) sebagai maskot hewan asli Jabar. Namun pada kenyatannya, hewan endemik Jawa ini kebe­radannya diambang kepunahan. Sekalipun dinya­takan hewan yang dilindungi, namun tidak ada upa­ya nyata dari pemerintah untuk melakukan penelitian maupun pendataan untuk mengetahui populasi macan tutul di habitatnya.

Sepertinya waktu yang akan menjawab itu semua. Nantinya kita akan menerima kabar, bahwa macan tutul tinggal nama alias punah, seperti saudaranya terdahulu, harimau jawa. Akankah demikian? Wallahuallam.
(Wartawan Galamedia)**