E-PAPER
ARSIP
syiar islam
Minggu, 14 juli 2013 00:58 WIB

Memberi Perintah kepada Allah

Oleh : Ustaz Yusuf Mansyur
TIDAK ada pekerjaan terpenting dalam kehidupan kita kecuali menunggu datangnya salat dan menyegerakan salat.

Dalam satu dialog, ada yang bertanya kepada saya bahwa tanpa sadar kita sering memberi perintah kepada Allah. "Tahu enggak ustaz, perintah apa tuh kira-kira?"

Saya memilih diam. Menikmati nasihat yang sedang datang kepada saya. Sejak awal bicara, saya memilih belajar saja. "Perintah yang dimaksud, perintah tunggu," katanya melanjutkan.

Pembicaraan saat itu sedang membicarakan salat tepat waktu. Saya langsung merespons membenarkan. "Iya juga. Perintah tunggu ya?"

Coba saja lihat, kata orang ini, ketika Allah memanggil lewat muazin, kita masih asyik dengan dunia kita. Tidak sadar bahwa Allah sudah memanggil kita untuk sujud dan ruku menghadap-Nya. Sebagian lagi mendengar, tapi tidak bergerak. Sebagiannya malah tidak bisa lagi mendengar. Tertutup oleh kesibukannya bekerja, berusaha dan mencari dunia.

Benar, rupanya kita ini memberi satu kode terhadap Allah, di hampir di setiap lima waktu saalat. Yaitu kode berupa perintah "tunggu". Luar biasa, jadilah Allah "menunggu" kita. Sungguh tidak ada pantas-pantasnya. Masa Allah disuruh menunggu kita?

***

Perintah "Tunggu"

Tidak ada yang lebih penting di dunia ini yang harus kita kerjakan kecuali salat. Salatlah pekerjaan utama kita, sedang yang lainnya adalah pekerjaan sambilan.

Apa yang terjadi dengan diri Anda ketika Anda mendengar azan? Apakah langsung bergegas memenuhi panggilan azan tersebut, lalu melaksanakan salat? Atau biasa-biasa saja? Kalau Anda tidak segera bergegas menyambut seruan itu, maka ketahuilah kita termasuk yang berkategori memberi perintah kepada Allah, yaitu perintah "tunggu" tersebut.

Perintah "tunggu" kepada Allah ini mempunyai banyak arti. Tunggu ya, saya sedang melayani pelanggan. Tunggu ya, saya sedang nyetir. Tunggu ya, saya sedang menerima tamu. Tunggu ya, saya sedang nemani klien. Tunggu ya, saya sedang rapat. Tunggu ya, saya sedang dagang nih. Tunggu ya, saya sedang belanja. Tunggu ya, saya sedang belajar. Tunggu ya, saya sedang mengajar. Tunggu ya, saya sedang merokok. Tunggu ya, saya sedang di tol. Tunggu ya, saya sedang terburu-buru. Tunggu ya, saya sedang tidur. Tunggu ya, saya sedang bekerja. Dan seterusnya.

Coba berkaca kepada diri sendiri, dan kebiasaan ketika menghadapi waktu salat. Perintah "tunggu" inilah yang kita berikan kepada Allah. Azan berkumandang, "Allahu Akbar, Allahu Akbar". Bukannya kita bergegas menyambut seruan itu, malah Allah kita suruh menunggu.

***

Siapa Sih Kita?

Barang siapa yang tidak mengusahakan salat di awal waktu, sungguh dia adalah orang yang tidak mengenal Allah. Rezeki-Nya lah yang selalu kita cari. Pertolongan-Nya lah yang sedang kita butuhkan. Dan Allah datang di setiap waktu salat membawa apa yang kita butuhkan, memberi apa yang kita inginkan, di luar kebaikan-Nya yang bersifat sunnatullah.

Kita ini manusia, makhluk ciptaan Allah. Diciptakan dari saripati tanah. Kita ada lantaran ada hubungan yang diizinkan Allah dari hubungan laki-laki dan perempuan yang kemudian terjadilah kita. Ya, dari sperma, kita menjadi manusia. Makanya Allah menyindir di surat Yaasiin ayat ke-77, "Bagaimana mungkin manusia yang diciptakan dari saripati tanah lalu tiba-tiba menjadi pembangkang? Menjadi pendurhaka kepada Allah?"

Tapi begitulah. Kita ini memang manusia yang tidak tahu diuntung dan tidak tahu diri. Kita tidak kenal siapa kita. Lihat saja, berani-beraninya kita "memerintah" Allah untuk menunggu kita. Iya kan?

Sedangkan, saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, seorang kopral tidak boleh memerintah sersan. Sersan tidak boleh memerintah kapten. Mayor tidak bisa memerintah jenderal, dan seterusnya. Hierarki itu terjadi. Bahkan, seorang polisi yang berdiri di pinggir jalan, lalu lewat mobil jenderal, maka jika dia tidak mengangkat tangan tanda hormat, maka secara kesatuan, ini akan menjadi masalah buat dia.

Nah, sekarang tanya, siapa kita, dan siapa juga Allah? Terlalu jauh hierarki kedudukannya. Bagaimana mungkin kemudian kita membiarkan Allah menunggu kita, atau kita memberikan perintah "tunggu" kepada-Nya, untuk menunggu kita? Astaghfirullah.

Insya Allah orang bisa selamat soal salat, ketika bisa berpikir begini, "Jangan sampai Allah menunggu saya. Kalo bisa, saya yang menyambut Allah. Sebab enggak ada pantes-pantesnya. Masa Raja Diraja, Pemberi Karunia, yang dirindukan pertolongan-Nya dan bantuan-Nya, yang dinikmati rezeki-Nya, lalu jadi yang menunggu saya? Emangnya, siapa saya?"

"Likulli syai-in baabun. Wa baabut taqorrub ilallaahi, ash-sholaah; segala sesuatu ada pintunya. Dan pintu supaya bisa mendekatkan diri kepada Allah itu adalah salat".
**