E-PAPER
ARSIP
kisah
Jumat, 15 maret 2013 00:43 WIB

Mereka yang Bersenjata, Militan, dan Berpengaruh (2)

FARC

Salah satu kelompok pemberontak terbesar dan tertua yang masih aktif di Benua Amerika dan masuk sepuluh kelompok teroris paling berbahaya di dunia adalah reputasi yang melekat pada Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia-Ejercito del Pueblo (FARC/Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia-Tentara Rakyat). Kelompok paramiliter dengan ideologi Marxiz-Leninis ini terlibat dalam konflik bersenjata di Kolombia sejak tahun 1964.

Dibentuk atas dorongan keprihatinan terhadap rakyat miskin perdesaan yang dinilai dimiskinkan para penguasa, mereka melakukan gerakan dengan fokus menghancurkan ekonomi kaum borjuis yang berkuasa dan menghentikan pengaruh politik Amerika Serikat di Kolombia. Selama puluhan tahun tentara petani dengan platform politik agrarianis dan anti-imperialisme ini bercita-cita mendirikan pemerintahan berhaluan komunis dan memperjuangkan nasib para petani miskin.

Namun dalam praktiknya selain berkonfrontasi dengan pemerintah Kolombia, FARC juga terlibat konflik dengan kelompok-kelompok paramiliter setempat yang berbeda haluan. FARC sendiri mulai menampakkan diri pada tahun 1920-an seiring gelombang protes petani lokal. Aksi-aksi intimidasi dan pembubaran paksa aparat Kolombia yang semakin represif kemudian membuat mereka membentuk milisi sendiri untuk melindungi komunitasnya.

Kisruh politik di Kolombia yang berakhir dengan perang saudara pada tahun 1948 menjadi puncak "konsolidasi" milisi petani sayap kiri ini. Mereka semakin sering terlibat kontak senjata dengan pihak-pihak yang berseberangan diiringi aksi yang kian berkembang. Tidak sekadar terlibat perang sipil tapi juga mulai melakukan praktik perdagangan narkotika hingga penculikan. Secara internasional FARC pun memiliki koneksi dengan beragam kelompok sayap kiri di berbagai belahan dunia seperti IRA, Kuba, dan Uni Soviet.

Hingga kini mereka masih menguasai wilayah-wilayah pelosok Kolombia bagian selatan. Sebagai masukan untuk menjalankan roda organisasi pada tahun 1980-an FARC mendapat pasokan dana dari penanaman kokain. Pendapatan dalam jumlah besar ini membuat mereka berkembang pesat dan mulai berani memperluas area operasi hingga ke wilayah perkotaan. Tambahan anggota dan dana melimpah juga membuat FARC melancarkan serangan berskala besar terhadap militer Kolombia.

Bahkan mereka mengirim sebagian anggotanya ke Vietnam dan Uni Soviet untuk pelatihan militer. Hingga tahun 2007 FARC mengklaim memiliki kekuatan bersenjata dan 18.000 anggota yang terdiri atas pria dan wanita. Namun tiga tahu kemudian pemerintah Kolombia menyatakan kelompok militan ini hanya berjumlah 8.000 orang. Namun angka tersebut tidak mengurangi gerakan mereka.

Buktinya FARC diklasifikasikan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat, Kanada, Cile, Selandia Baru, dan Uni Eropa. Salah satu operasi FARC yang "menonjol" adalah penculikan tiga kontraktor AS-Marc Gonsalves, Thomas Howes, dan Keith Stansell bersama politisi Perancis Inggrid Betancourt pada tahun 2002. Mereka baru berhasil dibebaskan pasukan keamanan Kolombia pada Juli 2008.

Tahun 2010, gerakan FARC mulai meredup pascaserangan militer pemerintah Kolombia yang menewaskan komandan FARC, Julio Rojas Suarez atau Mono Jojoy. Pemerintahan Juan Manuel Santos berharap pasukannya mampu menumpas FARC sekaligus mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 50 tahun. Namun FARC yang diperkirakan masih memiliki 5.000 personel tersisa masih terkonsentrasi di pelosok tenggara Kolombia dan hingga kini belum sepenuhnya hilang.
(mia fahrani/"GM"/net/bersambung)**