E-PAPER
ARSIP
opini
Senin, 11 maret 2013 00:28 WIB

Pemimpin Terpilih

Oleh : H. USEP ROMLI H. M.
SETIAP orang adalah pemimpin. Kullukum ro'in wa kullukum mas-ulun 'an ro'iyyatihi. Setiap kalian adalah pemipin dan akan dimintai pertanggungjawaban dari kepemimpinannya itu. Demikian sabda Kangjeng Nabi Muhammad saw.

Untuk menjabarkan sunnah Rasulullah tersebut, umat Islam generasi awal (assabiqunal awwalun), terutama yang menjadi sahabat terdekat, seperti Abubakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib -keempatnya terkenal dengan sebutan khulafaur rasyidin- menjalankan kepemimpinan mereka sangat hati-hati. Dimulai dari memisahkan urusan pribadi, kekuarga, dan urusan masyarakat.

Mereka tidak menunjukkan ambisi menjadi pemimpin, karena sudah terlebih dulu merasa tidak akan mampu menjalankan amanah dengan jujur dan penuh tangnggungjawab. Sebab kehidupan masyarakat, tergantung kepada pemingpinnya. Sebuah kaidah lama menyebutkan, arro'iyyatutba'un lirro'i wal ammatu ala dinil maliki. Rakyat tergantung kepada yang memimpinnya. Jika bagus, ikut bagus. Jika jelek, terbawa jelek.

Ketika Nabi Muhammad saw wafat, Abu Bakar didaulat menggantikan kepemimpinan umat Islam. Beliau dianggap paling memenuhi aspiratif. Mengikuti Nabi saw sejak saat-saat pertama menegakkan risalah dakwah Islamiyah. Abu Bakar mendapat gelar "ash Siddiq" karena selalu membenarkan ucapan dan tindakan Nabi saw di tengah penentangan dan permusuhan kaum kafir Quraisy yang amat berkuasa di Tanah Mekkah.

Abu Bakar menerima estafet kepemimpinan umat, dengan syarat tidak akan meninggalkan salah satu pekerjaan lamanya, memerah susu kambing milik seorang janda tua dan miskin. "Jika aku tidak memerah susu kambing itu, ibu tua akan kelaparan," kata Abu Bakar.

Setiap pagi, sebelum menjalankan tugas pemerintahan, Khalifah Abu Bakar datang ke rumah janda tua. Memerah susu kambing secukupnya. Hal itu berlangsung cukup lama. Baru berhenti setelah ada seorang sahabat lain yang siap menggantikan pekerjaannya. Padahal sebagai Khalifah, Abu Bakar dapat saja berhenti membantu memerah susu kambing janda tua. Atau menggantinya dengan dana bantuan sosial (bansos) yang tersedia di lembaga Baitul Maal. Tapi itu tak dilakukannya.

Menjelang wafat, Abu Bakar wasiat kepada para sahabatnya yang dianggap sebagai "Ahlul Halli wal Aqdi" (Majelis Tinggi), agar menunjuk Umar bin Khattab menjadi penggantinya. Umar menerima wasiat itu sambil memeriksa apa-apa saja harta benda yang ditinggalkan Abu Bakar untuk ahli warisnya. Ternyata hanya sebuah periuk usang dan sehelai tikar daun korma yang sudah sobek-sobek. Umar menangis dan berkata, "Mampukah aku mengikuti jejak Abu Bakar? Menjadi pemimpin umat dengan tingkat kesederhanaan begitu rupa?"

Selesai dilantik sebagai khalifah, Umar berseru kepada hadirin, "Janganlah kalian segan-segan mengoreksiku, jika aku alpa menjalankan aturan kepemimpinan yang baik dan benar."

Tiba-tiba dari belakang, muncul seseorang menghunus pedang, dan berbicara keras kepada Umar, "Jika engkau salah, aku akan mengoreksimu dengan pedang ini, wahai Umar!"

"Alhamdulillah," jawab Umar. "Pedangmu menjadi bagian pencegahan api neraka dari diriku jika aku menyeleweng."

Setelah Umar wafat, Ahlul Halli wal Aqdi memilih Utsman sebagai khalifah. Sahabat yang terkenal pemurah, hidup sederhana, dan apik ini, tiap selesai salat fardlu selalu menamatkan bacaan Alquran satu kali. Begitu dilantik, beliau berkata, "Kini aku harus menamatkan bacaan Alquran setelah salat fardlu tiga kali, agar aku selalu diawasi oleh Maha Pemilik Alquran. Sehingga dalam menjalankan pemerintahan, aku tidak berani melawan aturan-aturan-Nya. Juga agar aku lebih hafal memedomani ayat-ayat-Nya."

Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib, yang menggantikan Utsman bin Affan, menghadapi tugas-tugas berat, berupa pertikaian dan perpecahan di kalangan kaum muslim. Fitnah terhadap Islam dan ummat Islam yang dilancarkan sejak kelahiran Islam dan kerasulan Muhammad saw mencapai puncaknya pada era pemerintahan Ali. Namun berkat keuletan dan kecerdasannya, Ali berhasil mengatasi berbagai masalah internal dan eksternal, serta tetap menjaga ikatan kesatuan Islam.

Suatu waktu datang seorang Arab Baduwi, menghadap Ali dengan perangai kasar, melontarkan kata-kata kasar pula. "Wahai Ali, mengapa pada zaman Abu Bakar, Umar,dan Utsman, keadaan bangsa dan negara aman damai tenteram? Tapi pada zaman kamu sekarang, penuh kekacauan dan huru-hara?"

"Saudaraku," jawab Ali lemah-lembut. "Pada zaman Abu Bakar, Umar, dan Utsman keadaan bangsa aman damai tenteram, karena rakyatnya sopan-sopan, rendah hati, lemah lembut seperti Ali. Sedangkan pada zaman Ali, penuh huru hara dan kekacauan, karena rakyatnya kasar dan tidak santun seperti kamu."

Seratus tahun kemudian, muncul khalafaur rasyidin kelima yaitu Umar bin Abdul Aziz, salah seorang anggota keluarga Dinasti Umayyah (660-750). Begitu diangkat menjadi khalifah, menjadi Amirul Mu'minin, Umar bin Abdul Aziz langsung pingsan. Setelah sadar, pelan-pelan mengucapkan kalimat Innalillahi wa inna ilaihi Roji'un.

Ditanya oeh para sahabatna, mengapa mengucapkan kalimat yang dibiasa ditujukan kepada orang mati, Umar menjawab, "Memang aku kini menjadi orang mati. Sebagai pemimpin aku mati rasa dari gangguan sanak keluarga dan kerabat yang ingin mendapat macam-macam fasilitas proyek seperti yang sudah-sudah. Sebagai pemimpin aku mati rasa terhadap segala keinginan menyenangkan diri sendiri, istri dan anak-anak, karena aku harus konsentrasi mengurus kepentingan umat. Aku tidak boleh lalai sedikit pun dalam menjalankan amanah mereka. Sebab di kiri kananku berdiri tegak Malaikat Kiraman Katibin yang akan mencatat segala amal perbuatanku sebagai pemimpin. Jika aku memperturutkan hawa nafsu, maka api neraka sudah menyala-nyala di depan dan belakangku. Jika aku berbuat kebaikan dan kebajikan, akan tercatat jelas namun masih harus diperiksa dan dihitung di Mahkamah Hisab, apakah amal-amalanku ihlas, bersih, benar, sehingga layak mendapat nilai surga? Atau justru pamrih, mengharapkan sesuatu di luar ridla Allah, sehingga hanya layak menjadi kayu bakar api neraka?" kata Umar terbata-bata dan sibak air mata.
(Penulis adalah Sastrawan dan Budayawan Sunda)**