E-PAPER
ARSIP
gala sport
Senin, 08 juli 2013 00:45 WIB

Pengda PBKSI Berupaya Hidupkan Bola Keranjang

PAJAJARAN (GM) - Pengurus Daerah (Pengda) Persatuan Bola Keranjang Seluruh Indonesia (PBKSI) Jawa Barat, mencoba menghidupkan kembali cabang olahraga bola keranjang sebagai warisan olahraga dunia peninggalan zaman Belanda. Cabang ini sempat dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama di Surakarta tahun 1948. Namun, sudah lama ditinggalkan.

"Kami sebagai generasi penerus punya kewajiban untuk kembali menghidupkan bola keranjang, yang merupakan bagian dari bola basket. Karena dalam catatan sejarah, bola keranjang sempat dipertandingkan di PON," ujar Ketua Pengda PBKSI Jabar, Herry Mulyadi di sela-sela sosialisasi bola keranjang di lintasan sintetis Pajajaran, Minggu (7/7).

Herry mengatakan, sehubungan di Jabar akan berlangsung perhelatan multieven olahraga Porda XII/2014, pihaknya akan mencoba bola keranjang dimasukkan dalam pertandingan eksibisi.

Untuk itu, sejak saat ini pihaknya menggelar latihan, yang salah satu tujuannya memperkenalkan kembali olahraga ini kepada masyarakat. "Mudah-mudahan di Porda Bekasi nanti bola keranjang bisa dieksibisikan," ungkapnya.

Herry menjelaskan, selain mempersiapkan diri untuk pertandingan eksibisi Porda, latihan itu juga sebagai persiapan menjelang kejurnas di Jakarta, September mendatang serta kejuaraan tingkat Asia di India akhir tahun ini.

"Untuk di kejurnas, bola keranjang Jabar sudah memiliki 15 atlet. Empat atlet di antaranya terpilih untuk mewakili Indonesia di tingkat Asia," tegasnya.

Herry menyebutkan, saat ini sudah ada empat kota/kab. yang sudah memiliki pengcab bola keranjang, yakni Kota dan Kab. Bandung, KBB dan Kota Cimahi. Selain itu di Indonesia ada lima pengda, yaitu Jabar, Yogya, Bali, Lampung, dan DKI.

Menurut Herry, bola keranjang merupakan bagian dari cabor bola basket, yang membedakan bola dilempar dengan cara dioper kepada rekan setimnya untuk dimasuk­kan ke dalam keranjang. Sedangkan basket dengan cara mendribel.

"Untuk merekrut atlet bola ke­ranjang tidak terlalu sulit, karena akan mengambil atlet basket yang usianya sudah di atas 23. Untuk basket di usia tersebut tidak bisa lagi main. Kendati sama-sama me­ngeluarkan fisik, tetapi frekuensi­nya tidak seberat di basket, sehingga atlet usia di atas 23 tahun masih mampu untuk bermain," terangnya.

Ditambahkan Herry, permainan bola keranjang waktu bersihnya 2x25 menit dengan menggunakan lapangan seluas 20x40 cm. Untuk kembali memperkenalkan bola keranjang kepada masya­rakat, dimulai dengan sekolah-sekolah yang dibantu dari pihak UPI.
(B.113)**