E-PAPER
ARSIP
opini
Kamis, 26 september 2013 00:30 WIB

Persimpangan Jalan "PR" Wali Kota

Oleh : DINDIN SAMSUDIN
TERPILIHNYA Ridwan Kamil bersama Oded M. Danial menjadi pemimpin Kota Bandung periode 2013—2018 tentu diharapkan dapat memberikan perubahan dan perbaikan yang signifikan terhadap Kota Bandung. Seperti diketahui cukup banyak permasalahan yang ada di kota kembang ini. Pak Wali sendiri menyadari hal itu dan beliau mengungkapkan bahwa sudah menyiapkan sekitar 300 program untuk penyelesaian permasalahan yang ada di Kota Bandung. Tentu saja masyarakat Kota Bandung berharap semua program tersebut dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.

Sejak zaman penjajahan Belanda, Bandung sudah diberi sebutan Paris van Java. Selain sebagai Paris van Java, Bandung juga dikenal dengan sebutan Kota Kembang. Asal mula penamaan Kota Kembang itu sendiri menurut kabar karena sejak zaman penjajahan Belanda Kota Bandung sudah ditata rapi dan dihiasi dengan beragam bunga di taman kota. Ada juga dugaan kalau sebutan Kota Kembang muncul karena di Kota Bandung memang tumbuh subur beragam jenis kembang sebagai dampak dari letak geografisnya yang dipengaruhi oleh iklim pegunungan yang lembab dan sejuk. Pendapat lain mengatakan sebutan tersebut muncul karena keindahan yang dimiliki Kota Bandung sehingga diibaratkan sebagai keindahan sekuntum bunga.

Bagaimana dengan kondisi Bandung saat ini? Kemacetan jalan, kesemrawutan pedagang kaki lima, keberserakan sampah, dan kebanjiran "cileuncang" selalu menghiasi kota dan hal tersebut tentu saja menjadi keluhan warga Bandung hingga detik ini. Selain itu, suhu udara yang dulu sejuk juga kini sudah mulai jarang dirasakan warga kota. Perubahan cuaca tersebut selain seiring dengan pemanasan global di muka bumi juga diperparah dengan ditumbangkannya pohon-pohon pelindung demi pembangunan dan pelebaran jalan.

Satu hal lagi yang semakin meresahkan warga Kota Bandung saat ini seperti yang belakangan diberitakan dalam beberapa media di Kota Bandung adalah berkenaan dengan Penyandang Masalah Kesejahteraan Soaial (PMSK). Bertebarannya pengemis, pedagang asongan, pengamen, "manusia silver", dan "cleaning service" kendaraan di setiap perempatan jalan Kota Bandung yang sudah sangat memprihatinkan. Setiap berhenti di lampu merah, pengguna jalan pasti langsung "diserbu" oleh mereka. Belakangan, di setiap persimpangan jalan Kota Bandung juga "dimeriahkan" oleh pertunjukan doger monyet. Atraksi monyet untuk mengundang perhatian para dermawan agar dapat memberikan "uang ala kadarnya" itu tentu saja selain membahayakan, mengganggu kenyamanan pengguna jalan, juga dapat dikatakan mengeksplotasi binatang karena bukan pada tempatnya.

Rupanya, keresahan terhadap situasi Kota Bandung tadi tidak hanya dirasakan oleh warga kota, tetapi juga dirasakan dan diprihatikan oleh para pelancong yang datang ke Kota Bandung. Hal ini pernah diungkapkan oleh ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jabar di media cetak bahwa semakin banyak wisatawan yang datang ke kota kembang merasa tidak nyaman karena merasa terganggu dengan ulah pengamen, pengemis, dan pedagang asongan yang semakin berani. Wisawatan juga merasa terganggu dengan ulah para pengamen yang tidak segan melakukan aksi brutal jika tidak diberikan uang. Di samping

keberadaan pedagang asongan dan pengamen, wisatawan juga merasa terganggu dengan pengemis yang kerap memaksa bahkan mengikuti setiap wisatawan.

Situasi seperti ini tentu sangat mengkhawatirkan karena akan mencoreng muka orang Bandung yang dikenal dengan keramahannya. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah kota memang harus segera melakukan penertiban dengan cara yang baik, bijak, dan persuasif. Imbauan untuk tidak memberikan uang kepada mereka rasanya masih belum efektif mengingat keselamatan masyarakat atau pengguna jalan yang (mungkin) dapat terancam jika tidak memberikan uang kepada mereka. Mungkin dengan cara merazia dan mengembalikan mereka ke daerah asal perlu terus dilakukan. Akan tetapi, setelah dirazia perlu dipilah di antara mereka yang memupunyai motivasi untuk beralih pekerjaan. Selanjutnya, mereka diberikan pembekalan keterampilan dan usaha-usaha lainnya dan diberikan pekerjaan yang layak agar memiliki penghasilan.

Rasanya, dana seremonial yang tidak begitu penting akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk membiayai program-program sosial seperti tadi. Yang tidak kalah pentingnya adalah pembinaan harus tetap dilakukan dengan berusaha menyentuh keserasian pemenuhan kebutuhan material dan spiritual serta keserasian pemenuhan kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang. Selain itu, upaya hukum juga perlu ditempuh seandainya terdapat indikasi kegiatan mereka sebagai tindakan terorganisasi. Aparat keamanan juga harus bertindak tegas jika adanya perilaku yang sudah dikategorikan mengganggu masyarakat dan menjurus ke arah kriminalitas.

Fenomena ketidaknyamanan di persimpangan jalan Kota Bandung merupakan suatu kasus yang perlu dicarikan solusinya secara bijak dan berkearifan lokal. Oleh karena itu, perlu pemikiran, komitmen, dan kepedulian bersama untuk memulai pemberdayaan para pengemis, pedagang, pengamen, "manusia silver", dan pemain doger monyet agar mereka kembali memiliki "habitat" yang layak dan tidak semakin termarginalkan. Tentunya hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah kota, tetapi juga tanggung jawab semua masyarakat, khususnya mereka yang berkomitmen dan memiliki kepedulian terhadap nasib sesama yang berada di bawah garis kemiskinan. Sebagai warga Bandung kita pasti berharap agar kota ini tetap menjadi salah satu kota yang menjadi tujuan wisata utama di Indonesia

Memang, dalam kondisi sosial ekonomi bangsa kita yang masih rendah sekarang ini beragam cara dilakukan orang untuk mengais rezeki demi sesuap nasi. Namun, hendaknya hak untuk mencari nafkah seseorang jangan sampai mengganggu hak orang di sekitarnya dalam mendapatkan kenyamananan, keamanan, dan keselamatan. Keramahan masyarakat Bandung harus tetap menjadi kebanggaan kita dan pastikan itu sebagai salah satu magnet bagi para wisatawan untuk berwisata ke Kota Bandung. Rencana Dinas Sosial untuk terus menertibkan anak jalanan, gelandangan, pengemis, "manusia silver", dan doger monyet di jalanan Bandung patut kita beri apresiasi dan dukungan .

Kini Pak Wali harus bekerja keras untuk meningkatkan tingkat kenyamanan Kota Bandung. Semoga saja program 100 hari pertamanya dalam menghidupkan kembali Bandung Bersih, Hijau, dan Berbunga (Berhiber) dapat tercapai. Marilah kita kembalikan pamor Kota Bandung sebagai Parijs van Java dan Kota Kembang yang senantiasa nyaman dan aman. Kita tunjukkan bahwa Bandung merupakan kota jasa yang bermartabat.
(Penulis, Alumnus Universitas Padjadjaran, Tinggal di Jamika Bandung)**