E-PAPER
ARSIP
kabar bandung
Rabu, 13 november 2013 19:17 WIB

Polda Tangkap Pembobol BPR

SOEKARNO-HATTA (GM) - Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrim Sus) Polda Jabar berhasil mengungkap kasus tindak pidana perbankan yang terjadi di PT. BPR Sadayana Artha Majalaya yang beralamat di Jln Babakan No. 119 Majalaya, Kab. Bandung. Kasus tindak pidana perbankan itu berlangsung dari bulan November 2009 sampai dengan Agustus 2011. PT. BPR Sadayana Artha Majalaya sendiri saat ini sudah dilikuidasi.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Martinus Sitompul menjelaskan, dalam kasus itu Dit Reskrim Sus mengamankan enam orang tersangka. AN sebagai Komisaris Utama PT. BPR Sadayana Artha Majalaya, ZE sebagai Direktur Utama, AM Direktur, SR sebagai Kabag Operasional, NI sebagai Account Officer dan KHA sebagai Account Officer PT. BPR Sadayana Artha Majalaya.

"Tersangka saat ini sudah diamankan di Rutan Mapolda Jabar," kata Martinus kepada wartawan, Rabu (13/11/2013).

Dijelaskan Martinus, modus yang dilakukan oleh para tersangka yaitu melakukan penarikan tabungan tanpa seizin nasabah. Selain itu, tersangka juga menarik angsuran kredit yang tidak dicatat dalam pembukuan, selain melakukan pemberian kredit fiktif dan rekayasa pengeluaran biaya-biaya fiktif.

"Jadi para tersangka ini memiliki peran berbeda, sesuai dengan kedudukannya masing-masing," kata Martinus.

Dicontohkan Martinus, tersangka SR yang menjabat sebagai Kabag Operasional misalnya. Ia telah melakukan penarikan tabungan milik 10 orang nasabah PT. BPR Sadayana Artha Majalaya tanpa seizin dan sepengetahuan para nasabah dengan total nominal Rp. 56.600.000.

Sedangkan NI dan KHA selaku Account Officer, melakukan penarikan angsuran kredit untuk 98 debitur PT. BPR Sadayana Artha Majalaya. Namun proses itu sama sekali tidak tercatat dalam pembukuan atau laporan bank. Nominal angsuran yaitu sebesar Rp. 313.800.000. Bentuk kejahatan yang dilakukan ZE sebagai Direktur Utama dan AM selaku Direktur, dibantu oleh NI yaitu melakukan rekayasa kredit berupa 34 kredit fiktif dan 18 kredit topengan. Nominalnya sebesar Rp. 791.000.000, yang sebagian besar dananya digunakan secara pribadi oleh AN.

Martinus juga menambahkan, dalam tindak pidana itu ZE dan SR juga melakukan rekayasa pengeluaran biaya-biaya fiktif. Seperti perjalanan dinas, kegiatan olah raga pegawai, makan dan minum pegawai serta biaya lembur pegawai yang nominalnya mencapai Rp. 51.500.000. Akiba aksi para tersangka, kerugian yang diderita oleh perusahaan dan nasabah mencapai Rp 1.212.900.000.

"Untuk mengungkap kasus ini, penyidik sudah memeriksa sebanyak 18 orang saksi, termasuk 1 saksi ahli," tutur Martinus.

Lebih lanjut diungkapkan Martinus, Dit Reskrim Sus selain menangkap enam tersangka juga mengamankan sejumlah barang bukti. Mulai dari slip setoran BCA KCP Majalaya atas nama Zezen Hasan, 35 foto copy berkas kredit fiktif, 18 foto copy berkas kredit topengan, 60 lembar tiket atau voucer asli PT. BPR Sadayana Artha Majalaya yang dipergunakan untuk biaya makan, transportasi, kegiatan operasional dan non operasional karyawan PT. BPR Sadayana Artha Majalaya.

Martinus menegaskan, keenam tersangka dijerat dengan pasal 49 Ayat (1) huruf a dan B Undang-Undang No. 7 tahun 1992 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan. Mereka terancam hukuman penjara selama 15 tahun penjara atau denda sekurang-kurangnya Rp 10 miliar dan paling banyak Rp 200 miliar.
agh