E-PAPER
ARSIP
sketsa
Jumat, 05 juli 2013 00:16 WIB

Rekonstruksi

Oleh : LAKSMI SRI SUNDARI
KASUS suap terhadap hakim Setyabudi Tedjocahyono memasuki babak baru. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan rekonstruksi atau reka ulang terhadap kasus yang melibatkan enam tersangka selama tiga hari, Rabu-Jumat (3-5 Juli 2013) di sejumlah tempat di Kota Bandung.

Pada hari pertama rekonstruksi, masih seputar perjalanan uang suap hingga sampai ke tangan hakim Setyabudi Tedjocahyono. Belum terungkap dari mana sumber uang tersebut berasal.

Saat rekonstruksi di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, bukan hanya awak media yang berebut ingin mengambil gambar adegan yang diperagakan Setyabudi, Toto Hutagalung, dan Asep Taryana, tapi karyawan PN Bandung juga penasaran ingin melihat Setyabudi yang sebelumnya menjabat Wakil Ketua PN Bandung.

Meski banyak yang menyapa Setyabudi, namun tidak ada satu patah kata pun yang terucap dari mulut hakim bertubuh kurus itu. Bahkan ekspresi wajahnya pun terlihat datar.

Setyabudi adalah salah satu hakim Tipikor yang sudah banyak menjatuhkan vonis bagi para koruptor. Termasuk kasus Bansos Kota Bandung dengan vonis yang dijatuhkan kepada para terdakwa, sama rata yakni satu tahun penjara. Padahal jaksa menuntut terdakwa Bansos ini dengan hukuman penjara 4 tahun. Akibat vonis ini pula, KPK menelusurinya hingga akhirnya menangkap basah Setyabudi tengah menerima suap pada Maret 2013 kemarin. Setyabudi kemudian digiring ke KPK bersama tiga tersangka lainnya.

KPK pun memeriksa sejumlah saksi di antaranya Wali Kota Bandung, Dada Rosada dan Mantan Sekda Kota Bandung, Edi Siswadi yang akhirnya keduanya ditetapkan sebagai tersangka.

Berita perkara suap ini hampir memenuhi sejumlah media cetak dan elektronik, tidak sedikit di antaranya yang dijadikan head line. Kasus ini memang mendapat perhatian cukup besar dari masyrakat. Terlebih lagi setelah orang nomor satu di kota Bandung juga ikut terlibat.

Penetapan Wali Kota Bandung sebagai tersangka ternyata bukanlah akhir pengusutan kasus dugaan suap pengurusan perkara Bansos Kota Bandung. KPK masih akan terus menelusurinya.

Seperti yang diungkapkan Juru Bicara KPK, Johan Budi beberpa hari yang lalu. "Ini masih dikembangkan belum selesai yang sekarang. Bentuk pengembangannya penyidik menemukan dua alat bukti yang cukup," kata Johan.

Menurut Johan, pengembangan tersebut bisa mengarah kepada penerima suap lainnya di samping Hakim Pengadilan Negeri Bandung Setyabudi Tejocahyono

Kita tunggu saja siapa yang akan menjadi tersangka berikutnya. Kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, jika uang bukanlah segalanya. Memberikan uang kepada seseorang untuk memulus­kan perkara atau masalah yang dihadapi memang bukanlah perbuatan terpuji. Ma­lah akan merugikan diri kita sendiri, orang lain dan keluarga.
(Wartawan Galamedia)**