E-PAPER
ARSIP
kabar daerah
Jumat, 23 agustus 2013 03:12 WIB

Komisi B Tidak Tegas

Revitalisasi Pasar Terancam Gagal

SUMEDANG (GM) - Rencana revitalisasi tiga pasar tradisional, yakni Pasar Sandang dan Pasar Inpres di Kec. Sumedang Utara serta Pasar Parakanmuncang di Kec. Cimanggung, Kab. Sumedang, kini terkatung-katung. Kondisi itu dikhawatirkan dapat menyebabkan investor mundur karena permasalahan internal pasar yang tak kunjung tuntas.

"Investor yang siap membangun sudah ada, pemenang lelang yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Namun entah kenapa, perkembangan di lapangan menjadi sarat kepentingan," kata Kepala Bidang Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kab. Sumedang, Engkos, S.Sos., Kamis (22/8).

Ia menyebutkan, belakangan persoalan di internal pasar kian rumit. Hubungan Ikatan Warga Pasar (Ikwapa) dengan panitia lokal saat ini tidak harmonis. Akibatnya rencana penataan pasar mundur lagi. "Dengan gelagat seperti ini, kami khawatir investor akan mundur, karena merasa jenuh menghadapi berbagai persoalan yang sulit dibereskan," tandasnya.

DPRD tak tegas

Di samping itu, pihaknya mengaku kecewa dengan tidak adanya ketegasan dari Komisi B DPRD Kab. Sumedang. Jangankan mendamaikan panitia lokal dengan Ikwapa, kehadiran anggota Komisi B dalam suatu kegiatan sosialisasi semakin menambah tidak adanya kejelasan permasalahan di antara kedua kubu.

Dalam kesempatan itu, ia menyebutkan, Ketua Komisi B, Edi Askari tidak bisa mengarahkan pihak yang berseteru untuk memilih opsi yang ditawarkan. Yaitu melalui voting, apakah penataan pasar tersebut dilanjutkan atau tidak. "Waktu itu, Ketua Komisi B malah menyarankan untuk kembali melakukan sosialisasi kepada warga pasar. Sementara permasalahan yang terjadi sekarang, kedua belah pihak yang beseteru sama-sama pernah menyatakan menerima dan menolak jika penataan pasar dilanjutkan. Inilah langkah sulit yang harus kami hadapi," tandasnya.

Seandainya terjadi voting antara yang setuju dan tidak, maka akan memudahkan pihak Pemkab Sumedang dalam mengambil sikap. Menurutnya, jika masalah ini harus diawali lagi dengan sosialisasi ke bawah, maka bisa memicu persoalan baru. "Dilihat dari permasalahan yang ada memang cukup sederhana, yaitu adanya kubu yang pro dan kontra terhadap penataan pasar. Sebab itu, jika kita berani tegas mengambil sikap, yakni melakukan voting, masalah ini akan segera terpecahkan. Dengan begitu, investor juga tidak akan dibuat pusing jika sudah diperoleh keputusan final," ujarnya.

Jika ketidakpastian terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan investor enggan meneruskan pembangunan pasar tradisional tersebut. Dengan begitu, rencana revitalisasi tiga pasar di Kab. Sumedang pun terancam gagal.
(B.108)**