E-PAPER
ARSIP
kabar soreang
Senin, 16 september 2013 17:29 WIB

Sidang Pembunuhan Siswa SMA Dayeuhkolot Ricuh

SOREANG (GM) - Sidang lanjutan kasus pembunuhan sadis terhadap siswa sekolah menengah atas (SMA) Dayeuhkolot, Ardi (16) sempat diwarnai kericuhan di Pengadilan Negeri Bale Bandung (PNBB), Senin (16/9/2013).

Pasalnya, keluarga korban serta puluhan teman-teman korban merasa dendam atas aksi pembunuhan yang dilakukan empat tersangka, yakni AFB, APP, TR dan BG yang masing-masing masih berusia 16 tahun. Keempat tersangka ini, tercatat sebagai siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) di Baleendah, Kabupaten Bandung.

Sidang berlangsung tertutup, namun anggota keluarga korban dan teman korban bergerumul di depan pintu keluar. Sidang sendiri berlangsung lebih dari dua jam untuk mendengar keterangan dari para saksi dan terdakwa. Tidak satu orang pun pengunjung yang diperbolehkan mengikuti jalannya sidang. Mereka berkerumun di luar ruang sidang. Namun ada beberapa anggota keluarga yang mengikuti sidang setelah mendapat persetujuan dari aparat kepolisian.

Begitu selesai sidang, puluhan anggota keluarga korban dan teman-teman korban langsung merangsek ke pintu keluar ruang sidang. Puluhan anggota polisi yang sudah berjaga-jaga selama sidang sedikit kewalahan untuk mengamankan para tersangka dari pukulan warga yang tidak terima dengan aksi para tersangka dengan tangan kosong. Mereka terus mengejar para tersangka sampai ke ruang tahanan sementara PNBB.

Dari pantauan di lapangan, sekalipun mendapat perlindungan dari aparat kepolisian tak urung para tersangka ini mendapat bogem mentah dari keluarga dan teman korban. Bahkan salah satu tersangka mengalami luka cakar dan memar dibagian dadanya, sementara pakaiannya tercabik-cabik dan sobek.

Keluarga korban sangat kecewa terhadap aparat kepolisian yang melindungi para tersangka. Mereka mengungkapkan kekecewaanya dengan berfteriak-teriak dan mengumpat aparat keolisian.

Menurut Kapolsek Baleendah, AKP Susianti Rachmi, pihaknya sengaja menyiapkan sejumlah anggota kepolisian dibantu puluhan anggota Dalmas dari Polres Bandung, karena persidangan kasus pembunuhan ini sensivitasnya cukup tinggi. Anggota Kepolisian bertugas untuk melindungi warga negara, sekalipun mereka adalah para tersangka.

"Kami hanya menjalankan tugas, agar jalannya sidang dan pasca sidang berlangsung jondusif," tandasnya,

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Gusparli SH membenarkan, jika sidang kali ini untuk mendengarkan ketetarangan dari para saksi. Sementara saksinya sendiri, kata dia, adalah diantara mereka sendiri, tidak ada saksi dari luar.

"Sidang kali ini, untuk mendengarkan keterangan para saksi tidak lebih dari itu," katanya. Saat ditanya ancaman hukuman bagi para terdakwa, Gusparli enggan menyebutkannya. Menurut dia, masalah hukuman ini harus dikonsultasikan dulu dengan kejaksaan agung, karena para tersangkanya adalah anak-anak dibawah umur.

"Untuk masalah ancaman hukuman, saya tidak bisa berbicara. Kita harus dikonsultasikan dulu dengan pusat. Kasus ini kan dibawah umur," tandasnya.
kur