E-PAPER
ARSIP
opini
Senin, 25 maret 2013 01:36 WIB

Studi Teknik Penerbangan di Jerman

Oleh : VEGA HANNOVIANTO HANDOJO
TEKNIK penerbangan merupakan bidang studi yang mempelajari perancangan dan pembuatan pesawat terbang. Bidang ini semakin penting antara lain karena menurut Airbus, dalam 20 tahun ke depan diperkirakan akan dibutuhkan sekitar 27.000 pesawat terbang baru, dan sepertiga dari permintaannya datang dari Asia.

Di Indonesia, dalam sepuluh tahun terakhir jumlah penumpang udara bertambah dengan pesat. Pada tahun 2001 Bandara Soekarno-Hatta melayani 11,8 juta penumpang, dan pada tahun 2011 jumlah penumpang mencapai sekitar 52,4 juta. Maskapai Indonesia AirAsia yang didirikan tahun 2004 saat ini mengoperasikan 25 pesawat Airbus A320 dan 35 unit lainnya telah dipesan. Selain itu, pada tahun 2012 maskapai penerbangan Lion Air memesan 201 pesawat Boeing 737 MAX 9. Pada saat pesanan tersebut telah terpenuhi, Lion Air akan mengoperasikan sekitar 380 pesawat Boeing 737. Dengan melihat aspek-aspek tersebut, tampaknya kebutuhan akan transportasi udara di Tanah Air akan meningkat terus.

Dalam menghadapi perkembangan sekaligus tantangan tersebut, salah satu tempat meraih keahlian yang dibutuhkan ialah Jerman, negara di mana Presiden Indonesia ketiga, Pak Habibie pernah mejalankan studinya pada bidang teknik penerbangan. Selain itu Jerman juga merupakan negara yang mempunyai sejarah panjang dalam bidang teknologi dan diakui kualitas produk-produknya. Antara lain di Jerman pula pesawat-pesawat Airbus diproduksi, sehingga keahlian yang didapat melalui studi di Jerman niscaya akan sangat bermanfaat bagi kemajuan teknologi penerbangan di Tanah Air.

Studi di Jerman

Studi teknik penerbangan di Jerman dapat ditempuh pada sekitar 11 universitas dan 8 universitas terapan. Penulis menimba ilmu di Technische Universitdt Berlin sejak program bachelor di bidang Sistem Transport dengan fokus pada Teknik Penerbangan, dan saat ini dilanjutkan dengan program master.

Agak berbeda dari sistem pendidikan di Indonesia yang umumnya mencakup banyak mata kuliah wajib, di Jerman, dan secara lebih khusus pada bidang sistem transportasi yang mencakup juga teknik penerbangan, mata kuliah wajib program bachelor hanya sekitar 23% dari keseluruhan studi. Mata kuliah lainnya dapat dipilih dari katalog yang diperuntukkan bagi setiap jurusan, sampai keseluruhan studi bachelor, termasuk praktikum dan tesis, mencapai syarat 180 European Credit Transfer and Accumulation System (ECTS).

Berapa mata kuliah yang diambil dalam satu semester, atau pada semester berapa mengambil mata kuliah apa, diserahkan kepada masing-masing mahasiswa. Dengan sistem tersebut mahasiswa dapat memilih mata kuliah yang dianggap menarik dan perlu untuk mendukung karier. Di samping itu mahasiswa belajar mengatur waktu dengan mandiri dan menyusun jadwal.

Dalam kurikulum terdapat pula kewajiban melakukan kerja praktek yang di Jerman disebut praktikum. Lama minimal praktikum ialah 8 minggu untuk program bachelor dan 6 minggu untuk program master, namun kebanyakan industri menghendaki praktikum selama tiga bulan atau lebih lama. Tidak jarang pula praktikum dihubungkan dengan tesis akhir. Bahkan sering mahasiswa langsung mendapat kontrak kerja di perusahaan yang bersangkutan setelah lulus.

Praktikum merupakan salah satu daya tarik studi di Jerman karena tidak saja mahasiswa dapat menyaksikan langsung kemajuan teknologi dan industri Jerman, tetapi juga ikut bekerja dan berkontribusi di dalamnya. Pada program bachelor penulis berkesempatan melaksanakan praktikum di pabrik pesawat terbang Airbus, Hamburg, mengumpulkan pengalaman pada tahap pre-design pesawat terbang dan turut mengembangkan metode-metode estimasi berat dan pembebanan komponen pesawat, yang sangat membuka wawasan penulis.

Biaya

Lain dari Amerika Serikat dan beberapa negara di sekitar Jerman, di 14 dari total 16 negara bagian di Jerman mahasiswa tidak perlu membayar uang kuliah. Di negara bagian yang diharuskan membayar uang kuliah, biayanya pun relatif rendah dengan sekitar URO 500 per semester. Terlepas dari wajib atau tidaknya membayar uang kuliah, mahasiswa perlu membayar asuransi kesehatan sekitar 80Ä per bulan dan juga uang administrasi sekitar URO 100-250 per semester, di samping biaya hidup sebesar URO 400-700 per bulan, tergantung di negara bagian mana mahasiswa tinggal.

Oleh karena itu penulis merasa bersyukur dapat menerima Beasiswa Unggulan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri), sehingga dapat berkonsentrasi penuh dalam studi. Di samping itu penulis juga dapat dengan bangga bercerita kepada rekan-rekan Jerman mengenai beasiswa dari Pemerintah Indonesia yang umumnya belum mereka ketahui.

Memandang prospek ke depan di Indonesia, menurut hemat penulis, kerjasama PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dengan Airbus Military untuk program NC-212 merupakan satu langkah menuju sukses industri dirgantara di Indonesia. Salah satunya karena pengembangan pesawat NC-212 tidak membutuhkan proses penelitian dan sertifikasi yang ekstensif seperti bila merancang pesawat baru, sehingga dapat membuahkan hasil yang cepat berdampak tanpa pengeluaran yang besar.

Selain itu, pesawat kecil bermesin turboprop merupakan alat transportasi yang sangat praktis bagi Indonesia, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan besar dan tidak semua pelosok daerah telah memiliki infrastruktur untuk melayani lalu-lintas pesawat jet. Dalam kaitan ini, penulis mendalami salah satunya bidang struktur pesawat dan keahlian ini dapat memberikan kontribusinya dalam upaya pengembangan tersebut.
(Penulis adalah Mahasiswa Technische Universitdt Berlin, Jerman)**